mukat mjc
mukat mjc

Mengenal Tuberkulosis Lebih Jauh

Friday, 16 August 2013 | 14:41 WIB

tb

Ilustrasi

Penyakit Tuberkulosis dipresentasikan pertama kali oleh Robert Koch di Berlin, Jerman pada 24 Maret 1882. Meski obatnya telah ditemukan, jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan, terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries).

Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya tidak telatennya pada penderita dalam minum obat. Padahalpengobatan TB ini hanya diperlukan 6 bulan dengan teratur maka penderita akan dipastikan sembuh. Namun bila penderita berhenti di tengah jalan maka harus dimulai lagi dari awal pengobatan.

Selain itu sulitnya kesembuhan penderita TB di masyarakat adalah munculnya beberapa mitos seperti menganggap TB adalah penyakit kutukan yang harus dihindari, menyebabkan malu dan harus di kucilkan dari keluarga. Padahal itu sama sekali tidak benar, TB bukanlah penyakit kutukan melainkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Hal ini tentu disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat seputar TB.

Pengobatan untuk gejala TBC dapat berlangsung dari 6 bulan hingga 1 tahun, dan kadang-kadang ada penderita yang mengalami resistan terhadap obat TBC.

Ada beberapa pil yang harus diminum pada saat yang sama setiap hari, dengan ketepatan dan kedisiplinan jadwal minum obat. Jika aturan pengobatan TBC tidak ditepati, maka pengobatan dapat gagal.

Penderita TBC yang tidak disiplin dalam aturan minum obat mungkin merasa sudah lebih baik dan berpikir bahwa penyakitnya telah berhasil diobati. Namun, penyakit tersebut dapat kembali dengan lebih kuat dan lebih sulit diobati.

Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke–3 terbanyak di dunia setelah India dan China, dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB di dunia.

Tuberkulosis di ndonesia merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan pada semua golongan usia dan nomor satu dari golongan infeksi.

Bakteri Mikobakterium Tuberklosa ini tidak memandang bulu, menyerang siapa saja baik dia lelaki ataupun perempuan dan tentunya tidak memandang usia. Namun penyakit TBC biasanya sering menyerang pada usia rata-rata 15-35 tahun, atau usia yang masih produktif.

Apa itu TB?
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Kuman TB mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat bersifat dormant seperti yang dilansir di Artikel Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Bandung.

Penularan TB pada umumnya menular melalui udara, dan biasanya bakteri mikobakterium tuberklosa terbawa pada saat seseorang batuk lalu mengeluarkan dahak.

Gejala utama TB paru biasanya ditandai denga beberapa hal berikut ini yaitu sering mengalami demam yang tidak terlalu tinggi dan berlangsung lama, berkeringat pada malam hari, mudah terserang flu yang bersifat hilang timbul juga ditandai dengan turunnya berat badan dan kurang nafsu makan, batuk-batuk lebih dari 3 minggu dan kadang-kadang juga disertai dengan darah. Penderita juga mengalami perasaan terasa lemahdan lesu.

Kebanyakan orang tak menyadari mengalami gejala TB dan bingung membedakannya dengan penyakit lain karena tak mudah untuk mengenalinya. Padahal, gejala dimulai secara bertahap dan berkembang dalam jangka waktu beberapa minggu hingga berbulan-bulan.
Orang sering mengalami satu atau dua gejala ringan dan tak mengenalinya sedini mungkin. Gejala sering tidak muncul sampai penyakit ini berkembang. Mengidentifikasi gejala TB bisa membantu seseorang mencegah komplikasi seperti infeksi PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) pada organ tubuh lain.

Jumlah penderita tuberkulosis (TB) terus bertambah. Penyakit menular ini merupakan infeksi serius yang mempengaruhi paru-paru seseorang. Bakteri yang menyebabkan TB bisa menyebar dari satu orang ke orang lain melalui tetesan kecil yang dilepaskan ke udara melalui batuk dan bersin.

Jika TB tak diobati hingga tuntas bisa berakibat fatal. Oleh sebab dalam rangka menurunkan angka kesakitan TB ini di perlukan kerjasama beberapa pihak misalnya kader kesehatan dan masyarakat setempat serta peran keluarga itu sendiri. Tiada jera mengadakan penyuluhan kesehatan mengenai TB. Hal ini bermanfaat juga untuk menghindari kesalahpahaman tentang TBserta dapat menghapus mitos-mitos yang berkembang di tengah masyarakat.

Sehingga bagi warga menjadi tahu dan menyegarkan kembali ingatan warga yang sudah pernah mendapat informasi tentangTB. Bila seseorang menyadari apa yang dideritanya, maka akan tumbuh semangat dalam dirinya untuk berobat dan sembuh.

Selanjutnya memastikan ketersediaan obat TB di lapangan sangat penting, agar penderita TB tidak terjeda minum obat. Masalah yang menjadi PR adalah bagaimana caranya agar pasien tetap bisa mendapatkan lanjutan pengobatannya meskipun saat puskesmas libur, atau saat penderita terlalu sibuk bekerja, oleh sebab itulah Comunnity TB Care ‘Aisyiyah dalam hal menangai TB ini melakukan kerjasama dengan OKP-OKP swasta.

Dan di samping itu memanfaatkan peran serta masyarakat sebagai pengawas sekaligus pendukung bagi penderita TB. Seperti kader, tokoh masyarakat, dan lain-lain.

Dengan ketiga hal di atas, tidaklah sulit untuk mencapai kesembuhan bagi penderita TB. Meskipun menurut WHO, jutaan orang di dunia masih menderita tuberkulosis, namun ada juga penderita yang sembuh.[]

Oleh : Etti Rismanita
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh

Komentar