mukat mjc
mukat mjc

Puisi: Attaturkiyah

Monday, 23 December 2013 | 14:28 WIB

Attaturkiyah,
kau ungkit kembali mosaik romantisme
dari pori-pori memoriku yang mengendap,
sekejap usai kubaca suratmu .

Suratmu, Attaturkiyah,
di dalamnya butiran salju yang membeku,
kadang menjelma bantal-bantal kecil,
setiap aku merebahkan diri,
bagaimana aku bisa terlelap?

Saljumu tidak mencair, sungguh.
Membasahi belulangku
pada malam-malam bulan Desember.

Aku bangun dan memasak air.
kau tahu; tak ada perapian di negeri kita.

Hujan di luar menambah gigil,
suara petir bikin gundah,
detak jendela bagai rentetan senjata,
membuyarkan anganku tentang saljumu,
dan lampu padam,
kau tahu; ini kelaziman di negeri kita.

Buih air berhenti meletup dalam bejana,
api tungku menyembul bara;
dan anganku kembali menyala:
saljumu menggelitik dan panas,
menggelinding dalam diriku.

Aku ketakutan,
kusaji secangkir air mendidih,
meraba-raba dalam kegelapan,
dengan bantuan kilat petir,
kubuka suratmu.
Attaturkiyah,

bila air ini mencairkan saljumu,
semoga kutahu pesanmu yang sesungguhnya.

Makmur Dimila | Depok, Desember 2013

Komentar