mukat mjc
mukat mjc

Dolar Menguat, Harga Bahan Pokok Melonjak

Thursday, 29 August 2013 | 16:25 WIB

MJCnews.com – Anjloknya nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir menjadi momok yang menakutkan bagi pedagang. Tak hanya harga komuditi pokok yang beranjak naik dan langka di pasaran, daya serap pembeli juga menjadi berkurang.

Kedelai misalnya, hanya beberapa pedagang saja yang menjualnya di Pasar Tradisional Peunayong. Mukhtar, salah satu pedagang menyebutkan, kelangkaan kedelai terjadi sejak sepekan terakhir. Biasanya, kata Mukhtar, kedelai hanya dijual seharga 9.000, kini menjadi 12.000. Sebagian pedagang bahkan menjualnya hingga Rp 15.000.

“Daya pengaruh jualnya menjadikan daya beli menjadi kurang. PNS misal, budget belanja mereka membengkak. Pengeluaran lebih besar dari biasanya,” kata Mukhtar, yang dijumpai di Peunayong, Kamis, 29 Agustus 2013, pagi tadi. karena itu, tambahnya, daya serap belanja para pedagang otomatis menjadi berkurang.

“Pastilah, sangat berpengarung. Biasa uang belanja kita sudah persiapkan per minggunya berapa, sekarang malah tidak cukup,” ujar salah seorang pembeli.

Jariah, salah seorang penjual sayur menyebutkan, harga beli yang harus mereka keluarkan lebih besar dari biasanya. Namun, harga jual masih bertahan seperti biasa. “Kalau ikut kita naikkan, nggak laku barangnya,” ujar penjual sayur dari Blang Bintang ini. Hal yang sama disebutkan Saleh. Ia menuturkan, kenaikan harga bahan pokok menjadikan beberapa barang lainnya ikut naik dengan serentak.

Beberapa bahan komuditi impor yang mengalami kenaikan adalah telor. Biasanya, telor dijual Rp 28.000, menjadi Rp 35.000. sedangkan ketumbar, yang naik Rp 5.000 dari harga jual biasa, Rp 13.000. Bawang merah mengalami kenaikan Rp 2.000, dari harga awal Rp 17.000.

Tahu yang oleh penjual biasanya dibeli dengan harga Rp 85.000 per ember mengalami kenaikan Rp 15.000. Itupun, tahu baru kembali dijual pedagang setelah sejak lima hari terakhir menghilang di pasaran. Sementara tepung, beras ketan, dan minyak goreng ikut mengalami kenaikan. Kenaikan semua harga komuditi tersebut serentak dengan menguatnya nilai tukar dolar.

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) yang dikeluarkan Rabu (28/08) kemarin, nilai tukar rupiah diperdagangkan berada di level Rp 10.841 per dollar AS. Menguat tipis dibanding perdagangan akhir pekan lalu, yaitu di level Rp 10.848 per dollar AS

Seperti yang dikutip situs Kompas.com, Menteri Keuangan, Chatib Basri, dalam paparannya saat rapat paripurna DPR di Jakarta, Selasa, 27 Agustus kemarin, mengatakan, tren pelemahan rupiah akan berlanjut hingga awal tahun 2014. Sehari setelahnya, Chatib justru membantah pernyataan tersebut. “Seolah-olah Bank Indonesia (BI) dan pemerintah akan membiarkan rupiah itu melemah. Ini akan berakibat negatif bagi pasar,” kata Chatib saat konferensi pers di kantor Direktorat Jenderal Pajak Jakarta, Rabu kemarin.

Namun pemerintah optimis mampu meraih target nilai tukar di tahun depan, yaitu pada level Rp 9.750 per dollar AS. Asalkan, pemerintah bisa menjaga stabilitas perekonomian, meningkatkan tingkat konsumsi masyarakat, dan menaikkan prospek pertumbuhan ekspor komoditas andalan.

Chatib menyebutkan, empat faktor eksternal yang memberikan tekanan pada rupiah. Kebijakan pengetatan stimulus moneter oleh Bank Sentral Amerika Serikat yang diperkirakan dikeluarkan pada akhir tahun 2013. Kemudian, muncul kekhawatiran investor terhadap perkembangan ekonomi di negara-negara emerging market, terutama China, India, dan Brasil, yang akan berdampak pada aktivitas transaksi perekonomian di pasar internasional.

Gejolak harga minyak dunia akibat gejolak geopolitik beberapa negara produsen di kawasan Timur Tengah. Keempat, mengecilnya selisih suku bunga Bank Indonesia dan suku bunga dunia sehingga membuat investor mulai tertarik untuk mengalihkan modal ke Indonesia.

Meskipun demikian, menurut Chatib, pemerintah tetap memasang target nilai tukar rupiah tahun 2014 di level Rp 9.750 per dollar AS. Alasannya, sejauh pemerintah bisa menjaga stabilitas perekonomian, meningkatkan tingkat konsumsi masyarakat, dan menaikkan prospek pertumbuhan ekspor komoditas andalan, pelemahan rupiah bisa ditekan. []

mh

Komentar