mukat mjc
mukat mjc

Bisnis Ganja di “Kota Tuhan”

Friday, 21 February 2014 | 13:06 WIB

IMG_5990

Foto ilutrasi daun ganja. Oleh: Ahmad Ariska | MJCNews.com

Kutacane - Sebagian orang menyebut mariyuana. Sebagian lagi menyebutnya rumput. Bob Marley bilang, tampee. Memang banyak sebutan untuk ganja. Tapi buat Sikat–sebut saja demikian–si hijau membuat dia bisa membeli rumah mewah. Sikat adalah bandar besar di kawasan Kutacane, Aceh Tenggara, Nanggroe Aceh Darussalam.

Jangan beli ganja per amplop kepada Sikat. Apalagi lintingan. Dia sanggup memasok ganja berton-ton. Benih ganja juga ada. Satu cangkir dijual Rp 1 juta. Tiga cangkir benih cukup untuk satu hektare ladang ganja. Setelah 3,5 bulan ditanam, lahan satu hektare bisa menghasilkan ganja seberat satu ton lebih.

Banyak orang seperti Sikat di Aceh. Terutama di kawasan Kutacane, Aceh Tenggara. Mereka biasanya menanam atau membeli ganja yang ditanam di kawasan Pegunungan Leuseur. Ratusan hektare lahan ganja tumbuh subur di kawasan yang memiliki beragam hewan maupun tumbuhan. Padahal, pemiliknya hanya menyambangi ladang perdu itu saat menanam dan menjelang panen.

Tim Sigi menelisik langsung ke ladang ganja yang jarak tempuhnya sehari semalam dari ujung desa di Kabupaten Gayo Luwes. Tak mudah meyakinkan pemilik ladang ganja agar bisa mengantar sampai ke lokasi penanaman. Pemanen liar atau dikenal dengan Rambo selalu berhati-hati takut ladangnya terendus polisi.

Seorang Rambo yang mau mengantar adalah Sony. Dia mau memperlihatkan ladang ganjanya asal rute perjalanan tak bocor dan sejumlah uang sebagai jaminan. Raungan mesin senso yang menebang pohon berdiameter 2-3 meter, terdengar saat tim baru mencapai seperempat perjalanan. Pertanda, ladang yang akan ditunjukkan Sony adalah kawasan yang jarang dilalui manusia.

Setelah seharian mendaki gunung, perburuan ladang mendekati akhir. Ternyata benar. Tanaman-tananam ganja yang selama ini diburu pencandu ganja di kota-kota besar terhampar luas. Di kaki bukit, terdapat satu hektare lebih ganja siap panen. Ada enam hektare ganja lain yang bisa dipanen dalam sebulan mendatang. Dengan asumsi satu hektare dapat menghasilkan satu ton ganja, paling sedikit ada enam ton ganja yang siap membanjiri pasaran bulan depan: hanya dari satu lokasi.

Di ladang itu, kebetulan sejumlah petani sedang memanen ganja. Pucuk bunga atau yang biasa mereka sebut bajing adalah bagian pokok batang ganja untuk dipanen. Sementara daun-daun ganja yang sudah lebar dibuang.

Sony mengaku ganja yang dipetik dan dikeringkan adalah ganja kelas satu jenis laki-laki. Jenis ini biasannya diburu para bandar karena kualitasnya yang tak tertandingi. Untuk jenis ini, biasanya dijual Rp 250-300 ribu per kilogram.

Kehidupan di Kutacane mungkin seperti di Cidade de Deus, Rio de Janeiro, Brasil yang kisahnya diangkat dalam film City of God. Di kota kecil ini, peredaran narkotik dan obat-obatan berbahaya menjamur. Dalam setahun, transaksi barang memabukkan di Kutacane mencapai puluhan miliar rupiah. Jumlah yang tak sepadan dengan daerah yang sebagian besar wilayahnya adalah hutan.

Tengok Lembaga Pemasyarakatan Aceh Tenggara. Banyaknya narapidana kasus obat-obatan terlarang seakan menahbiskan jika Kutacane tak jauh berbeda dengan daerah Cidade de Deus. Yang mengejutkan, terpidana kasus ganja umumnya anak-anak dan wanita. Mereka rata-rata hanya menjadi orang suruhan atau kurir. Saking banyaknya para terpidana, LP kelas II B itukelebihan kapasitas hingga 100 orang tahanan. “Dari 200 kapasitas lapas,” kata Kepala LP Aceh Tenggara Ridwan Salam.

Bukti lain hebatnya transaksi ganja di Kutacane bisa dilihat dari hasil operasi Kepolisian Resor Aceh Tenggara sepanjang 2004-2005. Tahun kemarin, barang bukti ganja yang berhasil disita polisi mencapai lebih dari satu ton. Jumlah ini meningkat menjadi 1,5 ton ganja pada tahun ini.

Harga ganja di Kutacane memang lebih murah dibandingkan di kota-kota besar di Tanah Air. Di kota kecil ini, enam linting ganja dijual Rp 25 ribu. Sementara satu kilogram ganja yang di pasaran Medan dan Jakarta Rp 1,2-2,5 juta di Kutacane hanya dihargai Rp 300 ribu.

Kabupaten Aceh Tenggara serta Gayo Luwes menjadi salah satu pangkalan terpenting bisnis terlarang di Aceh. Derasnya perputaran lalap memabukkan ini juga membuat Serambi Mekah dari tahun ke tahun tak pernah lepas dari gelar provinsi pemasok ganja ke penjuru Tanah Air. Bahkan cimeng asal Aceh telah merambah pasar luar negeri melalui jalur penyelundupan.

Diakui seorang tokoh masyarakat setempat, polisi kurang tanggap dalam memberantas peredaran ganja di Kutacane. Menurut Haji Syakirin, polisi hanya menunggu bandar lewat di kota besar untuk menangkapnya. “Aparat keamanan kita tidak terlalu intensif memonitor,” kata pria berpeci putih ini.

Berbeda dengan keterangan Syakirin, polisi mengaku sulit menangkap bandar yang menampung ganja dalam jumlah besar asal Aceh Tenggara. Selain mata rantai yang terputus, transaksi sulit terendus karena dilakukan melalui jalur hutan belantara.

Salah satu bukti yang disodorkan polisi adalah dokumentasi penangkapan bandar ganja di kawasan Aceh Tenggara dan Gayo Luwes dua tahun silam. Saat itu, personel Polres Kutacane terlibat kontak tembak dengan petani ganja di sebuah lereng bukit. Di tempat ini, polisi menyatroni lebih dari 10 hektare ganja tak bertuan yang siap panen.

Tak jauh dari lokasi penggerebekan pertama, ladang ganja lain terhampar luas mulai dari usia satu bulan hingga empat bulan lebih. Di dua lokasi ini polisi menghanguskan tanaman ganja jenis laki-laki yang tergolong kelas satu di dunia.

Di sela-sela operasi di hutan, tak jarang polisi memergoki pemikul ganja kering sedang berjalan menyisir hutan menuju Medan. Seperti yang terjadi belum lama ini. Dua pemikul ganja kering tertangkap basah saat membawa 50 kilogram ganja. Dia mengaku menggendong ganja yang telah dikemas rapi ini hingga tujuh hari tujuh malam menembus hutan agar bisa sampai di Medan. Polisi juga menyita gergaji senso yang bisa digunakan untuk membuka jalan setapak.

Lain di gunung, lain pula di pinggiran Kota Kutacane. Maret silam, polisi menyita satu unit truk yang hendak menyelundupkan ganja ke Medan. Di balik lantai kayu bak truk, polisi menemukan lebih dari 500 kilogram ganja kering. Ketelitian polisi ternyata membuahkan hasil karena sepintas, truk itu seperti tak membawa muatan. Setelah diteliti, memang telah dibuat secara khusus bak penampung di truk. Dua orang dijadikan tersangka dalam kasus ini. Sang sopir mengaku hendak bertransaksi di wilayah Brastagi, Sumut. Namun hingga kini polisi belum membekuk pemilik dan pembelinya.

Peredaran ganja di Kutacane memang tak mengenal batas usia. Contoh, seorang bocah berumur 15 tahun yang ditangkap polisi saat berboncengan sepeda motor di perbatasan Aceh Tenggara-Medan. Dia kedapatan membawa 1,5 kilogram ganja yang disimpan di balik baju. Bocah yang bekerja sebagai pelayan pada sebuah kafe di Aceh Tenggara ini mengaku disuruh abangnya mengantar ganja ke suatu tempat di Medan.

Jalur pinggir kota dan menerobos hutan di gunung biasanya menjadi pilihan utama para pengedar dan penjual ganja daripada memilih jalur udara. Asal bisa lolos dari perbatasan Aceh Tenggara-Tanah Gayo, ganja-ganja kering biasannya leluasa masuk Medan. Sementara peredaran menyisir gunung jauh lebih aman mengingat kecil kemungkinan ditangkap polisi kecuali lagi apes.

Razia polisi seakan tak mematikan regenerasi pengedar dan penanam tumbuhan bernama latin Cannabis sativa di “Kota Tuhan”. Tanda tanya besar di balik kenyataan ini adalah, kenapa para cukong dan mafia ganja masih berkeliaran bebas?

Sumber: Liputan6.com

Komentar