mukat mjc
mukat mjc

Dedikasi Husnul untuk Selamatkan Generasi Lambirah

Wednesday, 15 July 2015 | 13:46 WIB

P1010509

Husnul sedang mengajarkan anak-anak didiknya di TPM Tanyoe, Gampong Lampirah, Sukamakmur, Aceh Besar. [Dok. Husnul]

“MENYO ta bantu gop, Allah bantu tanyoe,” begitu Husnul mengenang prinsip hidup yang ditanamkan dalam keluarganya oleh kedua orang tua.

Husnul adalah sosok perintis Taman Pendidikan Masyarakat (TPM) “Tanyoe” di Gampong Lambirah, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Aceh Besar. Sudah empat tahun dia mendedikasikan dirinya untuk mendidik anak-anak di pedalaman gampongnya yang jauh dari kota.

Berawal dari keinginannya mengalihkan perhatian anak-anak di gampongnya Lambirah dari kebiasaan buruk, pada awal Juli 2011 Husnul mengajak beberapa pemuda untuk berpikir menyelamatkan generasi gampongnya. “Awalnya kami mengajak anak-anak tersebut untuk sekadar berkumpul bersama, membaca dan belajar,” ujar gadis bernama lengkap Husnul Khatimah.

Kebiasaan buruk yang dimaksud dara kelahiran 3 Februari 1992 ini adalah anak-anak di sekitarnya cenderung menghabiskan hari-harinya dengan bermain playstation (ps). Bahkan tak jarang mereka ada yang mencuri demi mendapatkan uang untuk bisa bermain game tersebut. “Tentu untuk menggantikan kebiasaan buruk harus ada suatu yang baik. Lantas kami berinisiatif mengajak anak-anak tersebut untuk membaca dan belajar,” sebut lulusan Pendidikan Bahasa Inggris UIN Ar-Raniry itu.

Setelah anak-anak tersebut berkumpul bersama, kemudian Husnul dan kawan-kawan berpikir untuk mengajari mereka. “Jadi ide awalnya hanya untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari kebiasaan bermain PS,” terangnya sembari menyebutkan TPM Tanyoe resmi dibuka 7 Agustus 2011.

Empat tahun sudah TPM Tanyoe berdiri, Husnul mengaku tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau tempat belajar yang didirikan tersebut akan besar seperti sekarang ini. Kini mereka memiliki sebuah ruangan pustaka yang lumayan banyak buku dan dapat sejumlah penghargaan. Terakhir gampongnya Lambirah terpilih sebagai juara perpustakaan gampong se-Aceh Besar tahun 2014.

Untuk membangun TPM tersebut awalnya mereka menggunakan dana pribadi. Bahkan mereka sempat mengutang untuk merehab sebuah ruangan milik desa untuk dimanfaatkan sebagai ruang pustaka. Kemudian hutang itu dilunasi setelah Husnul menerima beasiswa dari kampusnya dan selebihnya dia beli buku bacaan.

Di ruang itulah kemudian proses belajar berlangsung. Anak-anak Lambirah sudah bisa membaca buku-buku yang sudah di dalamnya.

Seiring perjalanannya, TPM Tanyoe di Lambirah itu pernah mendapat bantuan dari lembaga asing. Bermodalkan bahasa Inggris yang dikuasainya, Husnul telah berhasil mencari bantuan dana demi pengembangan tempat pendidikan yang dirintisnya. Bantuan ini kemudian dimanfaatkan untuk membeli lebih banyak buku dan membangun ruangan yang layak sebagai tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar.

Lambirah adalah salah satu desa yang terletak langsung di bawah lereng pergunungan Bukit Barisan, yang merupakan desa terpencil dan terbelakang dalam kawasan Kabupaten Aceh Besar. Rata-rata mata pencaharian penduduk setempat adalah petani dan peternak. Tingkat pendidikan mereka pun masih tergolong di bawah rata-rata.

Aktifitas di TPM Tanyoe, selain aktifitas membaca yang pustakanya terbuka tiap hari, juga berlangsung proses belajar-mengajar. Tiga hari dalam seminggu yakni Rabu, Jumat dan Minggu, sekitar 80-an anak-anak akan diajarkan Matematika, Agama dan Bahasa Inggris.

Peserta belajar di TMP adalah anak-anak sekolah dasar sederajat. Mereka kini diajarkan oleh kakak-kakaknya yang sekolah di SMP dan SMA. Juga turut dibina oleh masyarakat gampong. Ini merupakan bentuk baru yang diterapkan oleh Husnul seiring ketidaksanggupan mendatangkan para relawan yaitu kawan-kawan Husnul di kampus.

Menurutnya, dengan pola seperti itu justru dirasakan lebih efektif, akan saling menjaga. “Jadi sekali jalan, dimana anak-anak SD jadi cerdas mereka yang SMP dan SMA juga terpelajar sendiri,” ujar putri dari pasangan Adnan Hasyim dan Nasriah Musa.

Selain dua penghargaan tersebut, kini Husnul juga berbangga setelah empat muridnya di TPM mendapatkan bantuan beasiswa dari Baitul Mal untuk melanjutkan pendidikannya. Juga dia menyebutkan, dalam waktu dekat akan datang tamu dari Jepang dalam rangka menindaklanjuti rencana pertukaran pelajar dari TPM Tanyoe ke Negeri Sakura.

Bahkan, TPM Tanyoe di Lambirah itu kini tidak hanya diikuti oleh anak-anak di gampongnya –Lambirah- saja, namun juga sudah diramaikan dengan kehadiran anak-anak dari 8 gampong tetangganya.

***
HUSNUL kecil dididik oleh ibunya yang berprofesi guru dan ayahnya seorang petani. Selain sebagai pengajar di sekolah dasar, di malam hari ibunya menjadi guru mengaji bagi anak-anak di Lambirah.

Namanya Nasriah Musa, ibu yang telah menginspirasi Husnul. Ibu kandung Husnul itu menanamkan pesan bahwa pendidikan adalah nomor satu dalam keluarganya. “Kami kadang tidak mampu mewarisi kalian harta, tapi cuma pendidikan (ilmu) yang bisa kami kasih,” ujar Husnul mengenang kata ibunya.

Menjadi guru ngaji ibunya tidak pernah berharap imbalan. Menurut ibunya, cerita Husnul, dengan membantu orang lain maka kita akan dibantu oleh Allah swt. Inilah yang kemudian menjadi prinsip hidup bagi Husnul.

Kemudian Husnul SMP sudah mulai membantu ibunya mengajar mengaji anak-anak yang belajar di rumahnya. Setelah menamatkan SMA di Ruhul Islam Anak Bangsa, Husnul melanjutkan pendidikannya di Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

Saat merintis TPM, Husnul yang ketika itu sedang kuliah mengaku dirinya tidak boleh diketahui gagal oleh keluarganya. Karena kalau diketahui gagal dalam kuliah, maka bisa saja dia disuruh mengundurkan diri dari pendirian TPM Tanyoe itu. Karena di mata ibunya, “gimana mau membantu orang lain kalau diri sendiri gagal.” Ini yang kemudian justru semakin memacu semangatnya agar tetap harus sukses di kampus meski disibukkan dengan aktivitasnya di TPM. Alhasil, dia pun lulus cum laude dengan IPK 3,8.

Kini, secara pribadi Husnul mengaku dirinya sudah banyak menerima manfaat dari pendirian TPM Tanyoe tersebut. Bahkan dirinya dikenal banyak orang atas nama tempat pendidikan yang dirintis di gampongnya Lambirah.

Selain meraih penghargaan Pelita Nusantara, Husnul juga terpilih mengikuti Youth Leadership Camp ke Australia pada 2012 lalu.

Kemudian pada 15 Oktober 2014, Husnul mendapat 2 apresiasi Anugerah Peduli Pendidikan (APP) 2014 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Masing-masingnya kategori individu/inivator pendidikan dan anugerah sebagai tokoh muda peduli pendidikan yang diserahkan langsung oleh Mendikbud Mohammad Nuh. “Dari sembilan tokoh yang mendapat anugerah itu, saya yang termuda. Alhamdulullah,” ujarnya.

Tidak hanya itu, terakhir pada bulan Mei 2015, nama Husnul masuk dalam nominasi Liputan6 Award 2015 kategori anak muda inspiratif.

Meski bercita-cita ingin melanjutkan pendidikan S2, namun Husnul mengaku tidak akan melepaskan TPM Tanyoe. Ini semata-mata karena dirinya khawatir akan terputusnya semangat anak-anak dalam mencapai cita-citanya. Karena kalau sudah sempat terputus, katanya, susah untuk dibangkit lagi.

Hanya saja, sebut Husnul, kalau dirinya berkesempatan melanjutkan pendidikan maka kepengurusan TPM akan dikaderisasi. Di kalangan pengurus TPM Tanyoe kini ditanamkan prinsip “terserah memilih jalan hidup apa, tapi pendidikan harus tinggi.”

Husnul dewasa kini menyimpan cita-cita untuk membuka semacam TMP itu di Pulo Aceh. Namun dia mengaku butuh bantuan tenaga khususnya dari mahasiswa asal daerah setempat. Menurutnya, yang menjadi modal dalam membangun sebuah daerah itu terdapat di desa. [Husaini]

Komentar