mukat mjc
mukat mjc

Magis di Arena Pacuan

Saturday, 29 March 2014 | 17:13 WIB

IMG_8362+

Ilustrasi foto pacuan kuda Gayo. Oleh: Ahmad Ariska | MJCNews.com

MJCnews.com – Dataran tinggi Gayo, pada pagi yang dingin. Kabut masih tersisa pada hari itu. Bekas tumpukan kayu muniru – – untuk menghangatkan diri – – malam tadi masih menyisakan kepulan asap tipis. Tak jauh dari situ, seorang tua sedang memandikan kuda dengan air yang dicampur perasan jeruk perut. Sedangkan Tamliha, joki cilik itu, bersiap mengalungkan lonceng kecil pada kuda tersebut.

Orang Gayo percaya akan keberadaan kekuatan gaib pada arena pacu kuda. Ya, seperti kata seniman Gayo, Salman Yoga S. “Semua orang percaya dan tahu persis keberadaan kekuatan itu,” katanya.

Salman, juga mantan joki di tahun 1980-an. Kuda yang ia tunggangi pernah beberapa kali menjuarai lomba. Ia ingat betul, suatu ketika di tahun 1989. Pada lintasan yang melengkung, kudanya terhempas. Seketika ia terlempar. Kepalanya membentur tiang pembatas. “Menurut beberapa kawan yang mengangkat saya, di bawah tiang ditemukan sebuah bungkusan sirih. Itu sesuatu yang sulit kita jelaskan dengan akal sehat.”

Salman menjelaskan, sebelum menunggang, ada syarat khusus yang haruslah dipenuhi. Hal itu dilakukan oleh joki-joki juara dan kuda terlatih. Misalnya, sebut Salman, seorang tua biasa terlihat menggigit potongan rumput dari tengah lapangan. “Ala cowboy,” kata Salman. Sebagian lagi juga mengunyah sirih, atau memandikan kuda dengan air jeruk perut.

***

Tamliha masih muda. Tiga tahun lalu, usianya 14 tahun. Tubuhnya ceking, berhidung mancung dengan perawakan wajah yang oval. Kami mengikuti perjalanan Tamliha dalam lomba pacu kuda tahun 2010 lalu, selama hampir sepekan. Mulai kesehariannya di rumah, di sekolah, hingga saat ia memberi pakan serta memandikan kuda.

Bagi Tamliha, bocah yang selama sepekan itu di atas kuda selalu mengenakan pakaian berwarna merah, menunggang kuda menjadi suatu kebanggaan.

“Merasa hebat aja ketika berada di atas kuda,” kata Tamliha. Apalagi, jika kuda yang ditunggangi menjadi jawara. Alhasil, pundi-pundi rupiah mengalir kencang, memenuhi kantongnya.

“Saya belum ada rencana berhenti menjadi joki, kecuali berat badan bertambah, dan badan semakin tinggi,” ujarnya. Ya, joki memang haruslah lelaki muda dengan tubuh kecil. Hal itu menjadikan kuda tidak terlalu terbeban, sehingga larinya pun kencang.

Pada kejuaraan memperingati ulang tahun Republik Indonesia 2010 itu, Tamliha menjadi salah seorang favorit juara. Dan benar, dalam babak final, ia mendapat juara harapan. Memang bukan mudah untuk memenangkan lomba. Bagi bocah yang sudah sejak kelas empat sekolah dasar, menunggang kuda tersebut, terhempas dari badan kuda adalah hal yang begitu menyakitkan. Dalam final di Kategori kuda B, ia terjerembab mencium tanah. Alhasil, beberapa luka menghiasi lengannya.

“Waktu menunggang kuda penglihatan saya gelap. Kuda jatuh, dan kemudian lari ke pagar,” ujar Tamliha sambil menampakkan luka pada lengannya.

***

Pacu kuda di tanah Gayo mencatat sejarah panjang. Arena pacu yang dulunya berada di bibir danau yang basah, kini dialihkan ke lapangan berdebu. Alkisah, Datu Beru, seorang pahlawan wanita Gayo menyerang pasukan Belanda dengan mengendarai kuda. Sambil memegang sebilah pedang di lengan kanan, dengan perkasa ia menghunus, mengusir penjajah dari tanah Gayo.

“Dari beberapa literatur yang saya baca, sejarah pacuan kuda, ya dimulai pada masa penjajahan. Dulu di pinggir pantai, di hulu laut tawar,” ulas Salman Yoga.

Hal senada dikatakan Amad, salah seorang tokoh masyarakat Aceh Tengah. Sejarah pacu kuda, katanya, dimulai sejak masa penjajahan Belanda, yaitu sekitar tahun 1850, di kampung Bintang. Kampung ini terletak di bagian timur kota Takengon. Rute pacuan sejauh 1,5 kilometer. Pacu kuda ini berlanjut di masa penjajahan Jepang menduduki Indonesia.

“Kalau dulu, pacuan kuda dilakukan habis panen padi. Tepatnya di bibir danau tawar. Sistem penilaiannya, Kalau kuda keluar dari air ya kalah,” ujar Amad.

Pacu kuda akan belanjut selalu setiap masa panen tiba. Kini, di tempat yang dulunya menjadi arena pacu, dibangun sebuah monumen kuda yang tampak menringkik sambil mengangkat kaki depannya.

Salman Yoga menjelaskan, ada perbedaan yang sangat jauh antara pacuan kuda tempo dulu dengan masa kini. Saat ia masih menjadi joki, spirit dalam bertanding adalah sebuah kebanggan dan kesenangan.

“Sementara sekarang orientasinya berbeda. Kuda itu bisa jadi simbol pendekatan politis, pendekatan mencuri hati masyarakat untuk kepentingan politis. Kuda juga bisa menaikkan nama daerah untuk menarik wisatawan, juga menjadi aset budaya,” sebutnya.

Meski demikian, tak dapat dipungkiri. Gayo memang memesona. Selain alamnya yang indah, Gayo kaya akan budaya. Pada dataran yang tinggi, semuanya bersemi. []

Komentar