mukat mjc
mukat mjc

Menanti Kembalinya Kilau Sabang…

Tuesday, 24 September 2013 | 18:35 WIB

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Keindahan bawah laut Sabang. Foto: Hamzah Hasballah/MJCnews.com

SABANG bak permata di Nusantara. Tidak hanya keindahan alam, wilayah kepulauan ini juga memiliki catatan sejarah yang mengilap dan letak geografis yang strategis. Namun, bertahun-tahun permata itu seakan menghilang. Beragam upaya ditempuh agar permata itu bersinar kembali.

Sabang adalah wilayah yang penting. Tak hanya karena terminologi heroik ”Dari Sabang Sampai Merauke”, tetapi sebagai wilayah terujung barat Nusantara, sejak lama Sabang strategis secara politik dan ekonomi. Sabang sebelum Perang Dunia II, adalah kota pelabuhan terpenting di Selat Malaka, lebih penting dibandingkan Temasek (sekarang Singapura).

Era pelabuhan bebas di Sabang dimulai tahun 1895, dikenal dengan istilah vrij haven dan dikelola Maatschaappij Zeehaven en Kolen Station yang selanjutnya dikenal dengan nama Sabang Maatschaappij. Sisa kota pelabuhan ini bisa dilihat di beberapa titik di Pelabuhan Kota Sabang. Bangunan bekas kantor maskapai sampai sekarang masih berdiri, dan kini beralih menjadi kantor pos. Beberapa deret pertokoan dengan pola bangunan kuno juga masih bisa ditemui di dekat pelabuhan, yang kini dirombak menjadi pelabuhan modern.

Pada masa kemerdekaan, posisi Sabang sebagai pusat perdagangan tenggelam. Pada saat yang sama, Singapura berkembang menjadi pelabuhan perdagangan modern dan terbesar.

Era baru terjadi ketika tahun 2000, saat Presiden Abdurrahman Wahid mencanangkan Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas dengan diterbitkannya Instruksi Presiden (Ipres) Nomor 2 Tahun 2000 pada 22 Januari 2000. Aktivitas Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang tahun 2002 mulai berdenyut dengan masuknya barang dari luar negeri. Namun, tahun 2003 aktivitas ini terhenti karena Aceh ditetapkan sebagai daerah darurat militer. Bencana gempa dan tsunami yang menghantam Aceh juga menghambat kelanjutan kawasan perdagangan bebas itu.

Usai masa rehabilitasi dan rekonstruksi, upaya membangkitkan Sabang kembali dilakukan. Pemerintah pusat pun mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 83 Tahun 2010 tentang Pelimpahan Kewenangan Pemerintah kepada Dewan Kawasan Sabang. Namun, implementasi PP itu sampai kini belum sepenuhnya diberikan, khususnya kepada Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS). ”Sudah 13 tahun BPKS ada, tetapi hasilnya untuk Sabang tak signifikan. Kami tak bisa menyalahkan BPKS karena kenyataannya pemerintah pusat belum sepenuhnya mengimplementasikan PP No 83/2010. Pengembangan Sabang agak terhambat,” kata Wali Kota Sabang Zulkifli Adam.

Lambannya implementasi juga diperparah dengan kinerja BPKS dalam pengembangan wilayah dan investasi yang kurang. Belakangan, justru Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelidiki dugaan korupsi di instansi itu. Dua tersangka ditetapkan pada Agustus 2013, dengan kerugian negara diperkirakan mencapai Rp 249 miliar.

Bangkitkan pariwisata

Terlepas berbagai kendala regulasi dan hukum, sebenarnya dalam tiga tahun terakhir, Sabang terus berbenah, khususnya di sektor pariwisata. Sektor ini paling memungkinkan untuk dikembangkan dibandingkan sektor lain, karena besarnya potensi wilayah ini di sektor tersebut.

Sabang merupakan wilayah kepulauan. Ada lima pulau yang menyusunnya, yaitu Pulau Weh (pulau terbesar), Klah, Rondo, Rubiah, dan Seulako. Dengan laut yang masih alami, pemandangan nan indah, nilai historis, dan posisi strategis sebagai ujung Nusantara, Sabang pun berpotensi menjadi daerah tujuan wisata di negeri ini.

Pemerintah daerah membenahi obyek wisata andalan. Promosi pun dilakukan, meski masih dalam skala terbatas, mulai dari festival selam, kapal layar, kompetisi fotografi, hingga pengibaran bendera Merah Putih di dasar laut.

”Kami juga mencanangkan Gerbang Nol Kilometer, yaitu Gerakan Pembangunan Sabang melalui Sektor Pariwisata. Hasilnya lumayan. Dalam setahun terakhir jumlah wisatawan meningkat,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sabang Zulfi Purnawati.

Hingga Juli 2013, jumlah wisatawan Nusantara ke Sabang mencapai 115.603 orang. Wisatawan asing sebanyak 2.543 orang. Jumlah wisatawan Nusantara itu melampaui angka yang berkunjung ke Sabang tahun 2012, sekitar 101.000 orang. Ini merupakan jumlah kunjungan wisata terbesar di Sabang dalam beberapa tahun terakhir.

Sabang menjadi penyumbang terbesar kunjungan wisata asing di Aceh. Hingga Juli 2013, Aceh dikunjungi 6.385 wisatawan mancanegara.

Ragam wisata yang beraneka, keamanan, dan posisi yang terpisah dengan wilayah Aceh daratan, memberikan peluang bagi Sabang untuk melangkah lebih maju dalam hal kepariwisataan dibandingkan daerah lain di Aceh. Juni 2013, Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menetapkan Kota Sabang bersama 44 obyek atau kawasan wisata lain di negeri ini sebagai destinasi alam unggulan Indonesia. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) juga menempatkan Sabang sebagai kawasan wisata dengan pantai terbersih ketiga di Indonesia.

Berkah berkembangnya sektor pariwisata ini pun mulai dirasakan masyarakat. Zulfi mengungkapkan, dari sekitar 35.000 penduduk Sabang, kini sekitar 10.000 di antaranya mulai menggantungkan penghidupannya di sektor pariwisata. Selain berdagang suvenir, membuka rumah makan, penginapan, dan bekerja di sektor jasa pariwisata.

Safrijal (39), pedagang suvenir di Pantai Gapang, Sabang, mengaku gembira, dalam beberapa waktu terakhir makin banyak wisatawan membeli dagangannya. Hal ini tak lepas dari kian banyaknya wisatawan yang datang di Pantai Gapang. ”Daripada tiga tahun lalu, sekarang lumayanlah. Seminggu dapat Rp 1 juta lebih. Dulu sulit, kadang seminggu tak laku apa-apa. Sekarang banyak warga asing yang datang pula,” tuturnya.

Bersama Tugu Nol Kilometer, Pantai Iboih, dan Pulau Rubiah, Pantai Gapang menjadi daerah tujuan utama pariwisata di Sabang. Selain itu, Sabang juga mempunyai banyak lokasi tujuan wisata lain, mulai dari pantai, wisata selam, air terjun, wisata vulkanik, hingga jejak-jejak peninggalan Perang Dunia II.

Namun, perkembangan sektor pariwisata itu bukannya tanpa masalah. Infrastruktur pendukung masih perlu dibenahi, terutama akses jalan, penginapan, pusat informasi, transportasi, dan membina masyarakat supaya semakin terbiasa dengan kehidupan kepariwisataan.

Seperti penginapan, meski kini jumlah kamar yang disewakan di Sabang mencapai sekitar 800 unit, tetapi dari sisi kualitas pelayanan masih perlu dibenahi.

Sumber: Kompas.com | (Mohamad Burhanudin)

Komentar