mukat mjc
mukat mjc

Mengenang Yap

Friday, 29 May 2015 | 12:38 WIB

news_13_1369296906

Yap Thiam Hien (1913 - 1989). (Foto: Istimewa)

news_13_1369296906
“Banyak mahasiwa disini yang tidak mengenal sosok yang satu ini, padaha dia bukan orang yang asing di Aceh, menurut sebuah pendapat sifat pemberani dan tidak gentar memperjuangkan keadilan itu karena ia seorang Aceh” Ungkap Rizky Alfin Syah ketika membuka seminar mengenang 100 tahun pejuang Hak Asasi Manusia, Yap Thiam Hiem Tahun 2013.

Acara yang baru pertama kalinya di gelar di Aceh itu mengambil tempat di Fakultas Hukum Unsyiah. Seminar sore itu diselengarakan atas kerja sama Museum HAM Aceh dan BEM Fakultas Hukum dihadiri oleh mahasiswa, aktifis, sejumlah dosen dan dua penemrima Yap Thiam Hiem Award asal Aceh yaitu Farida Hariyani dan Suraiya Kamaruzaman. Keduanya merupakan aktivis perempuan Aceh.

“ Kurangnya ketahuan mahasiswa hukum kebanyak tentang tokoh ini memang di karenakan kurangnya tulisan dan buku yang menulis tentangnya sehingga kita lebih banyak mengenal pejuang hak asasi manusia dari negara barat, pernah suatu waktu saya menanyakan kepada seorang aktifis mahasiswa tentang Yap, dia malah berbalik tanya kepada saya siapa itu? ” Tambah Rizky lagi. Sebelum Rizky Mengakhiri pembicaraan ia mengutip sebuah kalimat yang sangat terkenal dari seorang Advokat dan pengacara itu.

“Apa yang hendak Saudara capai di pengadilan? Hendak menang perkara atau hendak meletakkan kebenaran saudara di ruang pengadilan dan masyarakat? Jika saudara hendak menang perkara, janganlah pilih saya sebagai pengacara Anda, karena pasti kita akan kalah. Tetapi jika saudara merasa cukup dan puas mengemukakan kebenaran saudara, maka saya mau menjadi pembela saudara”
Maulana Ridha salah seorang mahasiswa Fakultas Hukum Unsyiah Mengatakan bahwa kalau berbicara tentang sosok Yap untuk mahasiswa hukum sebenarnya mempunyai keterikatan emosional tersendiri namun tidak banyak yang mengenalnya.

“ Kalau berbicara disini paling banyak hanya ada sepuluh orang yang tahu, namun dia kan sosok yang fenomenal walau tidak dikenal sini namun sangat terkenal secara internasional dan hal ini menjadi penting untuk memberi pengetahuan tentang sosok ini kepada mahasiswa” Tambahnya lagi.

Berbicara tentang sosok Yap menurut Maulana juga penting untuk mengigatkan bahwa sudah lama kita tidak pernah berbicara tentang Hak Asasi Manusia. “Selama ini kita sibuk berbicara politik sehingga soal HAM menjadi terlupakan padahal untuk konteks Aceh ini merupakan hal yang penting”.

Maulana juga berharap nantinya acara ini akan diadakan rutin setiap tahunnya, sehingga kembali ada sosok sosok baru seperti Yap yang lahir kembali di masa depan.

Menurut Kho Khie Siong ketua umum perkumpulan Hakka Indonesia Untuk Aceh, bukan hanya mahasiswa yang banyak tidak mengenal Yap, jika bertanya kepada orang Aceh Keturunan Tionghoa mereka juga yang tidak tahu.

“ Saya sempat mendengar sedikit dari ayah dulu namun kalau di tanya lagi sekarang saya sudah tidak yahu di mana persis rumah dan kehidupannya selama di Aceh” Tambah Laki Laki Baya yang akrab di panggil Aky Itu.

Yap Thiam Hien lahir di Kuta Raja yang sekarang Banda Aceh pada 25 Mei 1913 dari keluarga Leutenent der Chinesen. Golongan yang pada masa kolonial itu cukup dihormati. Kakek buyut Yap adalah imigran dari selatan China yang datang pada 1844.
“ Lokasi Persisnya saya sudah nggak tahu kalau di tanya namun yang pasti rumahnya ada di sekitar daerah Peunayong ini” Ungkap Aky lagi.

Dalam jurnal Indonesia tahun 1989, Daniel Saul Lev menyebut, Yap menamatkan pendidikan sekolah dasar di Europeesche Lagere School yang terletak di kawasan Blang Padang, Banda Aceh. Setelah itu, Yap ikut ayahnya ke Batavia dan melanjutkan pendidikan di sana. Pada tahun 1947, Yap memperoleh gelar Mesteer in de Rechten setelah menyelesaikan sekolah hukum di Leiden, Belanda.

Reza Idria Direktur Museum HAM Aceh menyebutkan bahwa Acara seperti ini penting untuk dilakukan agar menjadi bahan pelajaran dan juga memperkenalkan sosok Yap Kepada Mahasiswa. “ Mahasiswa itu merupakan gambaran masa depan untuk negeri ini jadi penting untuk memperkenalkan kepada mereka bahwa ada sosok Aceh di bidang hukum dan HAM dan tidak menganggap itu produk luar”
“ Yap Sebagai orang Aceh dan sebagai pejuang HAM tidak terkenal di aceh ataupun di Indonesia, sehingga sosok yap ini bisa jadi teladan bagaimana nantinya hukum itu bisa di tegakkan dengan benar dan menjamin adanya Hak dasar dan bagaimana kemudian toleransi itu bisa di jalankan” Ujar Reza Idria lagi sambil tersenyum.

Saat Memasuki usianya yang ke 76 tahun, Yap menghembuskan nafasnya yang terakhir akibat pecah pembuluh darah, aortic aneurysm. Ketika itu, 23 April 1989, dia sedang mengikuti konferensi InterNGO Conference on Indonesia.

Peunayong Sekarang Memang Sudah berbeda kala Yap Meninggalkannya puluhan tahun yang lalu. Kota yang dulu di bentuk Belanda sebagai Chinezen Kamp Atau Littel China town telah berganti wajah. Suasananya pun tampak dipenuhi generasi tua yang mengenakan kaus sederhana, menikmati kopi, menghisap rokok, sambil bercakap dalam bahasa Hakka Kwantung, Hok Kian, Hai Nan dan Kong Hu dalam dialek khe diselingi bahasa Mandarin yang kental akan logat Aceh. Namun Sosok Yap Tetap Hidup disini.

“Dia Memang Minoritas namun dia adalah Aceh saya, rasa semua orang Aceh akan bangga dengan hal itu” Ungkap Reza Idria di akhir wawancara.[]

Khiththati

Komentar