mukat mjc
mukat mjc

Selamat Datang Tahun Kuda Kayu

Tuesday, 11 February 2014 | 00:34 WIB

IMG_20140131_105105

Umat Budha berdoa saat perayaan imlek di Banda Aceh. Foto: Radzie/acehkita.com

HARI RAYA Imlek hampir menjelang. Hanya selisih dua jam saja. Beberapa orang Cina keturunan mulai terlihat bersembahyang. Asap dupa hio memenuhi ruangan. Satu-dua orang mengipasnya dengan kertas koran. Mata mereka terlihat berair. Entah karena terkena asap dupa, atau haru dengan datangnya tahun baru.

Keisya masih bocah. Usianya baru delapan tahun. Bersama keluarga besarnya, ia mengikuti ritual sembahyang. Bersujud di depan altar utama Vihara Dharma Bhakti. “Dari tempat makan langsung kemari,” katanya.

Vihara Dharma Bhakti merupakan salah satu pusat perayaan Imlek di Banda Aceh. Vihara ini dibangun tahun 1973. Saat itu, posisinya di pinggiran pantai Ulee Lheu. Erosi pantai membuat bangunan klasik ini dipindahkan ke Peunayong, sebuah pusat pecinan di Aceh.

Bangunan Vihara terlihat mencolok. Posisinya berada di tengah-tengah pertokoan. Warna merah mendominasi. Atap bangunan menyerupai burung walet yang sedang mengepakkan sayapnya. Dua patung singa tepat berada di depan pintu masuk. Ornamen bunga memenuhi beberapa sudut vihara. Di sebelah kiri pintu masuk, diletakkan sebuah patung dewa empat arah, pada sebuah beton setinggi dada orang dewasa. Tak jauh dari situ, hio lo, tempat pembakaran hio dupa diletakkan di empat sisi ruangan.

Tepat di atas meja dupa paling besar di vihara itu, menggantung sebuah besi berwarna merah. Melintang sepanjang tiga meter yang terkait pada empat tali berwarna hitam. Herman, salah seorang warga keturunan Cina mengatakan, hal itu sebagai simbol kerja bergotong-royong.

Dewa-dewa itu diletakkan dalam bingkai kaca. Aroma dupa menyeruak. Pengap. Ornamen naga berwarna keemasan menghiasi beberapa tiang. Lampion-lampion digantung di dalamnya. Selain itu, beberapa wadah kaca dilengkapi sumbu diletakkan tak jauh dari dewa. Wajan itu diisi minyak goreng dan dinyalakan pada saat sembahyang.

Herman menyebutkan, dewa-dewa itu hanya dibersihkan sekali dalam setahun, yaitu sepekan menjelang Imlek. “Dewa-dewa ini baru selesai kami mandikan. Jadi harus diatur lagi,” kata Herman menjelang Imlek lalu.

Dalam Vihara ini terdapat sebelas dewa. Biasanya kata Herman, setiap orang yang datang berdoa menurut keyakinan terhadap dewanya masing-masing. Ada yang sembahyang kepada Dewi Quan’in. Ada juga kepada Dewa Tekong, tuan tanah yang dipuja di Vihara Darma Bakti.

Herman patut berbangga. Telah 13 tahun, sejak bekas Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional, ia bersama ribuan etnis Tionghoa dapat merayakan Imlek secara masal.

Dahulu Imlek hanya sebatas nama. Suharto melarang aktifitas kebudayaan yang berbau Tionghoa di Indonesia. Masalah politis di negeri ini harus membuat mereka untuk memilih menjadi salah satu pengikut agama yang diakui. Bila tidak, mereka akan dicap atheis, bahkan komunis yang saat itu diburu di Indonesia. Kebanyakan dari warga cina kemudian memilih mengikuti agama Kristen dan Budha. Klenteng pun harus berubah fungsi menjadi vihara dan diwajibkan mempunyai umat.

Hal itu juga terjadi di Aceh. Posisi kaum Cina dikekang. Namun kerukunan yang telah terbangun sejak turun-temurun tetap membuat membuat mereka merayakan Imlek, meski secara sembunyi-sembunyi.

Pakar kebudayaan Tionghoa, A.Rani Usman mengatakan, sejak berakhirnya orde baru, Imlek dirayakan secara meriah, layaknya hari raya idul fitri bagi umat Islam. “Kita dan mereka saling mengunjungi. Sama juga ketika Idul Fitri,” kata penulis buku Etnis Cina Perantauan di Aceh.

Tuntutan zaman perlahan telah menggeser beberapa tradisi Cina, termasuk Imlek. Dulunya, kata Rani, Imlek dirayakan hingga 15 hari berturut. Namun kini, di sebagian tempat hanya dirayakan pada hari pertama pergantian tahun.

Zaman yang terus merangkak maju, pergeseran budaya pasti terjadi dan tak dapat dielakkan. Hal itu juga berlaku bagi warga keturunan Cina di Aceh. Pengaruh globalisasi seperti masuknya kebudayaan barat maupun ketidaksesuaian budaya menjadikan perayaan Imlek berubah.

“Orang Cina itu terkenal sebagai pebisnis. Jadi Imlek hanya dirayakan di hari pertama, dan selanjutnya mereka kembali menyibukkan diri dengan bisnisnya,” kata Rani. Meski demikian, perayaan Imlek di Aceh tetap meriah. Tak jarang barongsai dipentaskan.

Sementara Yuswar, Ketua Vihara Dharma Bhakti melihat, pergeseran budaya tersebut merupakan tuntutan dan sebatas penyesuaian dengan lokasi di mana Imlek dirayakan. “Karena ada beberapa perayaan yang tidak sesuai dengan tempat daerah domisili kita dan itu tak mungkin dilaksanakan,” kata Yuswar.

Ia mencontohkan, pada tahun baru imlek seharusnya ada prosesi mengarak Rumpang Dewa-Dewi keliling kota. Sementara pada perayaan pada hari ke 15, atau Cap Go Meh yang merupakan hari puncak perayaan Imlek. Namun, kata Yuswar, kedua hal itu tidak dilaksanakan di Aceh.

Meski ini adalah kebudayaan Cina yang biasa hanya dirayakan mayoritas umat beragama Khonghucu, namun tidak dengan di Aceh. Di Aceh, tak ada satupun tercatat warga keturunan yang beragama Khonghucu.

“Dulunya ada yang beragama Khonghuchu. Karena penduduk Tionghoa di Aceh banyak yang beragama Budha, jadi kita semua pindah ke agama Budha,” kata Yuswar.

Yuswar mengatakan, mulanya perayaan Imlek bukan bentuk perayaan agama, tapi untuk menyambut pergantian musim dingin ke musim semi, yang dihitung berdasarkan kalender Cina. Kalender Cina itu dibuat oleh Kong Hu Cu, yang kemudian menawarkan kepada kaisar. Kong Hu Cu kemudian disembah sebagai dewa, dan falsafahnya menjadi agama baru. Awal tahun Cina jatuh pada musim semi, yang bertepatan dengan masa bercocok tanam kemudian dirayakan sebagai hari pergantian, hingga kini.

“Meskipun tidak beragama Khonghucu, semua orang Tionghoa dapat merayakan Imlek, kata Yuswar.

Yuswar mengatakan, ajaran Khonghuchu tak jauh berbeda dengan Budha, yaitu sama-sama mengajarkan untuk bersyukur saat musim semi tiba. Imlek dalam Khonghuchu dan Budha mempunyai makna yang sama, yaitu penyambutan musim semi, sambil memperbanyak sukur dan memanjatkan doa kepada Pencipta. “Karena kesamaan itulah makanya Budha juga ikut merayakan Imlek,” katanya.

Di Cina, perayaan Imlek memang lebih meriah. Pasalnya, di sana ada musim semi. Sementara di Indonesia, khususnya Aceh, tak ada musim semi. Jadi perayaan Imlek sebatas adat istiadat, tidak ada kaitan dengan perayaan agama.

Seperti biasa, Imlek identik dengan berbagi antar sesama. Mereka mempersiapkan angpau yang dibagikan kepada anak kecil, dan fakir miskin. Yuswar mengatakan, puncak tahun baru dalam kebudayaan Cina ditandai dengan turunnya dewi rezeki. Tugas dewi rezeki adalah membagikan rezeki berupa angpau berwarna merah kepada jemaah yang sembahyang di vihara.

“Angpau ini sebagai terima kasih karena rezeki yang telah kita terima. Jadi kita berikan kepada orang yang lebih kecil atau pun yang belum menikah seperti anak-anak dan pemberian angpau ini wajib bagi orang-orang yang sudah berkeluarga,” kata Yuswar.

“Ini bukan soal isi nya, tapi menurut kepercayaan dulu, jika angpau merah itu disimpan di laci uang atau dompet, rezekinya akan bertambah,” kata Julita, bendahara vihara. Malam itu, mereka mempersiapkan 500 angpau untuk dibagikan kepada jamaah.

Layaknya hari raya, perayaan Imlek juga diisi dengan doa-doa kepada leluhur. Dalam tradisi Cina, sembahyang kepada keluarga yang telah tiada, dilaksanakan sehari sebelum Imlek. Sementara di rumah, ibu-ibu biasa mempersiapkan kue-kue Cina.

“Kami sudah membersihkan rumah, juga sudah menyiapkan kue, ada juga lontong. Baju baru juga ada,” ujar Iliana, salah seorang Tionghoa yang di jumpai saat selesai sembahyang.

Tak ketinggalan, pada keesokan paginya setiap rumah biasa telah menyiapkan makanan seperti kue bakul untuk disuguhkan kepada tamu. Ada juga lontong dan kue kering lainnya. Seperti layaknya Muslim di Aceh, masyarakat Tionghoa juga saling kunjung mengunjungi sebagai bentuk silaturahmi antar etnis.

Dalam kalender Cina, Imlek 2014 yang bertepatan tahun Kuda Kayu, kata Anwar, erat kaitannya ranah ekonomi. Kuda melambangkan kecepatan dalam berpacu. Jadi manusia juga harus ikut berpacu. “Jika mereka tidak ikut memacu kuda itu, maka mereka akan ketinggalan,” kata Yuswar. “Tahun ini saya harus lebih berpacu sama seperti kuda.”

Yuswar berharap tahun baru Imlek ini dapat menjadi tahun yang lebih baik daripada sebelumnya. “Apalagi 2014 adalah tahun pemilu. Jadi kita sangat mengharapkan supaya pemilu kali ini bisa berjalan lancar, aman, dan damai.”

Waktu terus berjalan. Imlek telah datang. Puja-puji kepada Dewa terus dipanjat. Di luar vihara, kembang api penanda pergantian tahun mewarnai langit Banda Aceh. Selamat Hari Raya Imlek 2565. Sing Cung Kyi Hi: selamat merayakan musim semi baru. []

Desi Badrina | Sumberpost.com

Komentar