mukat mjc
mukat mjc

Suka Duka Manusia Gerobak

Wednesday, 24 September 2014 | 09:50 WIB

“Berimpitan kayak anak ayam. Kalau hujan kedinginan kayak anak anjing.”

Kehidupan Wasman jauh dari kata sempurna. Tidur berimpitan dalam gerobak. Mandi di sungai yang keruh. Memulung dengan penghasilan yang tak pasti. “Yang penting bisa makan dan tidur,” katanya. Wasman tak ingat berapa usianya. “Mungkin lebih 70 tahun.” Giginya telah tanggal, hanya tinggal beberapa, berwarna kecoklatan.

Selama tiga hari di pekan pertama awal Mei 2014, saya bersama Wasman di bantaran sungai Ciliwung. Ia ditemani Anton, Murni sang istri, serta Cuamah mertuanya. Anton adalah pencari paku di jalanan Jakarta. Sehari-hari, ia bisa mengumpulkan tiga kilopaku. Mereka bercerita banyak hal tentang kegetiran hidup di ibu kota. Bagai sebuah diskusi dengan dialog yang tajam. Kopi, minuman dingin, rokok dan dua bungkus kue menemani pertemuan itu.

Wasman memberi rokoknya pada Anton. “Susah sekarang ini. Kayu yang dibakar semakin jarang,” kata Anton. Ia membakar dan menghembus asap dengan sekali tiup. “Pedagang juga ngumpulin sendiri kardus dan botol bekas,” sela Wasman. Ia memandang jauh ke sungai yang keruh. “Kalau banjir banyak botol dan perabutan yang hanyut.”
Wasman berasal dari Eretan, sebuah desa di pinggiran pantai di Karangsong, Indramayu, Jawa Barat. Mengikuti sang ibu yang kini telah meninggal, ia berangkat ke Jakarta pada tahun 1970 dengan mimpi mengubah nasib.

Bagi Wasman, Jakarta adalah impian, sebuah tempat yang memberi janji. Saat ibunya kembali, ia memilih bertahan meski usianya masih belia.

Namun impian itu tak bisa ia raih. “Terlalu jauh bagi kami,” ujar Wasman. Ia mengambil sisir dari tanah, menggaruk betisnya hingga menampakkan daki berwarna putih kusam. Daki itu ia usap dan tiup, kemudian melumurinya dengan uap es dari botol minuman dingin.

Anton berasal dari Kalimantan. Ia berangkat ke Jakarta bersama perusahaan yang mencari pekerja di pelosok kampungnya pada 1994, menjadi pengepul aspal ibu kota. Ketika proyek itu selesai, ia memilih menetap. Tak kembali hingga hari ini.

Bagaimana ceritanya bisa hidup seperti ini bang? Pertanyaan pertama yang terlontar. Masih sekedar basa-basi. Anton tertawa. Wasman cengengesan. “ Ya kayak gini. Tidur berimpitan kayak anak ayam. Kalau hujan kedinginan kayak anak anjing.” Wasman menunjuk gerobak yang terparkir di situ. Wajahnya lebih serius. Ia membakar rokok dan menghirupnya dalam. Asap keluar pelan dari barisan giginya yang jarang, seperti menahan emosi. Kini Anton sibuk dengan topi hitamnya.

Rumah Wasman adalah sebuah gerobak ukuran dua kali satu meter. Terparkir tepat di antara bantaran sungai Ciliwung dan rel kereta di Halimun. Bunyi klakson bagai musik yang tak henti di sana. Hampir lima menit sekali, bunyi sirene yang dilanjutkan kereta yang lewat. Tempat itu terlalu ramai untuk sebuah rumah gerobak yang sempit.

Di dalam gerobak itu, ada sebuah selimut, kain dan beberapa baju yang dibungkus pelastik. Sebuah tas tergantung di dalamnya. Sebuah pelastik transparan diikat menjadi sebuah atap. Sementara pelastik lainnya digelar di tanah yang datar, tepat di pinggir gerobak. “Ini ruang tamu,” kata Cuamah, mertua Wasman. “Kalau malam abang biasa tidur di sini,” tambah Murni.

Cuamah berusia lebih dari 80 tahun. Wajahnya keriput. Giginya telah habis. Ketika tersenyum, tampak gusinya yang rata, berwarna merah. Rambutnya putih. Usia tua membuat ia membungkuk saat berjalan. Murni memapah ke manapun Cuamah pergi. “Dulu saya nyuci baju orang. Sekarang tidak boleh lagi sama anak. Tinggal di rumah aje,” kata Cuamah melirik rumah gerobaknya.

Murni adalah anak tertua Cuamah. Anak yang membawa serta sang ibu, ke manapun ia melangkah. Biasanya, Cuamah membantu keuangan keluarga dengan mengemis. Namun kini tenaganya tak lagi mendukung. Untuk berjalan saja, langkahnya harus diseret. Amat pelat. Apalagi, sejak pemerintah merazia pengemis di jalanan, Cuamah tidak lagi berani lagi meminta-minta.

Murni dan Wasman mempunyai tiga orang anak. Yang tertua bernama Erni, 20 tahun. ia telah berkeluarga dan mengontrak rumah di Kerawang, Bekasi. Anak kedua adalah Fitri, 15 tahun. Fitri saat ini berjualan di Jalan Latuharhari, Menteng. Di sana pula bocah tanggung ini tinggal, sekitar 500 meter dari gerobak Wasman. Sementara anak ketiga meninggal saat masih berusia setahun. Wiwik, bocah itu meninggal tersambar petir. “Dia meninggal ngorok. Yang namanya kita tinggal di pinggir jalan,” kata Murni.

Awalnya, keluarga ini tinggal di Poncol, Kampung Melayu Kecil. Di sana, mereka menempati gubuk dekat emperan jalan. Wasman masih bekerja sebagai tenaga kebersihan di sana. Setiap malam hari, ia menarik gerobak sampah, mengutip semua sampah dari rumah warga. Anaknya, Fitri masih bersekolah, kala itu. Sementara si bayi dilukiskan sebagai bayi yang lucu. “Badannya gemuk. Kulitnya putih bersih,” kata Wasman.

Mimik wajahnya berubah saat bercerita tentang Wiwik. Ia lebih banyak terdiam. Pun juga dengan Anton, Murni dan Cuamah. “Sebuah kehilangan terbesar dalam diri saya itu pak,” katanya. Mata Wasman merah. Bulir kecil mengambang di wajahnya. Saya menyodorkan kue, ia mengambil sepotong. Kemudian melempar dua potong tahu goreng ke depan keluarganya. “Makan. Makan. Silakan dimakan mak.” Sepertinya ia hanya mencoba melucu. Cuamah mengambil kue itu, mengunyah hanya dengan gusi.

Derita itu bertambah saat banjir besar yang melanda Jakarta pertengahan Februari tahun lalu, yang membuat 14 orang tewas dan menghanyutkan gubuk sempit, tempat Wasman tinggal sebelumnya. Tak ada pilihan bagi keluarga yang menumpang di tanah negara ini.

Mereka mulai bergerilya mencari lahan baru, yang dapat mereka tempati. Berbekal dua gerobak, mereka pindah ke Latuharri. Tinggal di trotoar jalan, tepat di depan Museum Ahmad Yani. Di sana, mereka menetap hampir setahun. Makan dari hasil memulung yang tak menentu. Dari sana, keluarga ini pindah lagi ke dekat rel kereta Halimun, dan menetap hingga kini.

Di kalangan para pemulung, Wasman layaknya aktor yang dikenal banyak orang. Tegur-sapa selalu datang, dari siapapun yang lewat di depan gerobaknya. “Kalau dulu orang yang lari pagi selalu ngelirik saya,” kata Wasman. Ternyata, sebuah stasiun televisi pernah menampilkan kegetiran hidupnya di jalanan, pada tahun lalu. “Itu manusia gerobak yang masuk tivi. Mereka selalu bilang gitu.” Meski demikian, kehidupannya tidak berubah. Tetap hidup dari hasil mengais di jalanan. Tidur berimpitan dalam rumah gerobak. “Kejam ya bang,” katanya.

Wasman hobi mengoleksi barang berkelas, meski bekas. Di lengannya, bertengger dua buah jam. Yang satu bermerek Donna Karan New York model tipis, yang jika asli harganya tembus Rp 2 juta. Yang satunya berwarna emas dengan bahan atom. “Beli sama kawan. 150 ribu,” katanya.

“Jam berapa sudah?” Tanyanya sambil memutar jam semi emasnya. Jarum jam menunjukkan angka 12. Sepertinya Wasman buta huruf. Padahal jam di lengan kirinya menunjukkan angka yang tepat. Baru di hari ketiga, secara tak sengaja ia bilang anaknya pintar baca-tulis, tak sama dengan mereka, orang tuanya.

Hobinya memang berkelas. Di lengan kiri Wasman, juga ada lima cincin dengan batu berwarna merah, hijau dan putih berkilau dengan ukuran yang berbeda. Sepatu yang ia kenakan adalah sepatu olahraga bermerek Reebok. Saat Ia beli, sepatu seharga Rp 10 ribu itu tapaknya telah menganga. Namun setelah dipermak, barang itu kembali tampak mewah. “Kalau dijual sudah lebih Rp 100 ribu.”

Di bawah gerobaknya, juga ada tiga tempat pembakaran lilin dari replika monyet. Wasman membelinya dari pemulung lain, Rp 25 ribu. Di malam hari, lilin dibakar di atas replika itu. “Saya hobi ngumpulin yang unik-unik,” katanya.

Dalam sepekan ini, Wasman tidak memulung. Ia menjual sepeda anaknya, Fitri, seharga Rp 250 ribu. Cukup untuk makan selama sepekan. Selama itu pula, Wasman hanya berkeliling dengan sepeda motor Fitri. Pulang pergi Manggarai, Jatinegara dan Menteng. “Jumpa kawan-kawan. Siapa tahu ada barang bagus,” katanya. Kemana saja ia melangkah, ia tampil necis, dengan balutan jaket kulit meski tanpa baju di dalamnya.

Di motornya, Wasman membawa sebuah buku tulis. Masih putih bersih, tanpa satu pun coretan. Bulan lalu, katanya, ia bahkan mempunyai tiga buku lainnya. Buku tersebut ia berikan kepada polisi yang berjaga di Halimun. “Saya juga nggak perlu. Bawa-bawa aja,” kata Wasman.

Wasman mengambil pisau kecil dan membersihkan tanah yang menempel di cincin pada tangan kirinya. Murni mengantar Cuamah ke kamar mandi di pos pelintasan kereta, di Halimun. Di sana Cuamah dan Murni biasa buang air, mencuci dan mandi. Sekali pakai, mereka membayar Rp 2.000. “Tak ada yang gratis di Jakarta. Saya kalau mandi di sungai,” kata Wasman.

Rabu pagi, Wasman dan Anton berjumpa Toni, kawan lama yang telah setelah setahun tak bertemu. Toni berambut ikal, hampir sebahu. Ia menarik gerobaknya melintasi Halimun. Dari kejauhan ia berteriak girang, bagai anak yang menemukan mainan baru. “Kemana saja Ton?” Tanya Anton. Kata Toni, dalam satu tahun terakhir ia lebih banyak memulung di Priok, Jakarta Utara. Anton kemudian menarik gerobak Toni, memarkirnya di belakang pos kereta.

“Lo udah botak Ton?” kata Toni. “Iya, gua botakin, gatal kepala gua. Kayaknya banyak kutu.” Mereka tertawa
bersama.

Toni adalah pemulung yang juga tinggal di gerobaknya, di jalanan ibu kota. Ayahnya asli Betawi, namun menikah ke Indramayu, Jawa Barat. Ia mengeluarkan hanphone android yang dibungkus dalam selempang batik. “Kita pakai barang bagus semua bang. Tapi kita jual lagi kalau sudah tidak ada uang,” kata Toni.

Toni kemudian memutar beberapa lagu lama. Memori yang mengingatkan mereka akan nostalgia bersama, di masa lalu. Wasman tertawa mendengarnya. “Lagu lama, Ton,” katanya. “Lagu Gereja Tua. Itu mah masa nenek saya pacaran. Makan singkong berdua,” kata Wasman. Mereka tertawa bersama.

Toni merogoh kocek, mengeluarkan segopok uang dari kantongnya. “Beli rokok bang. Dua bungkus,” kata Toni. Tak Nampak kegetiran dalam canda-tawa ketiga pemulung itu. Ia juga memberi uang, menyuruh membeli kue untuk Rika, bocah satu tahun, keponakan Murni yang bertamu bersama ibunya, Laila.

Toni menyuruh Wasman membongkar barang di gerobaknya. Ada sepasang sandal dan sepatu kulit yang masih bagus di sana. Barang yang kini membuat koleksi Wasman bertambah. Meski hidup susah, mereka bersaudara.

Saat hari bertambah siang,Toni merebah di tanah yang bergunduk. Mereka terus bersenda, tertawa tanpa beban. Meski kehidupan mereka jauh dari kata sempurna, kebersamaan membuat kehidupan mereka lengkap. Mungkin hingga esok hari, kehidupan mereka tidak berubah. Tetap di jalanan, tetap terlelap berimpit dalam gerobak tua. []

Hamzah Hasballah

Komentar