mukat mjc
mukat mjc

Indonesia Tapi Beda

Sunday, 24 May 2015 | 12:39 WIB

IMG_3340

Anak-anak Papua | Hamzah Hasballah

Kehidupan anak-anak pedalaman Papua jauh dari kata merdeka. Dalam segalanya mereka serba tertinggal; transportasi tak ada, listrik tak menyala, sekolah tidak buka. Jika di pulau Jawa anak-anak sudah lancar berbahasa inggris, maka di Papua, mereka masih belajar mengeja.

Perahu kecil itu berjalan pelan. Amat pelan, barangkali bisa disusul dengan berlari-lari kecil saja. Dibuat dari sebatang pohon yang dipahat dengan kampak dan parang, sehingga membentuk lengkungan yang mirip belanga yang lonjong. Di dalamnya, dua buah dayung dan sebatang bambu untuk mendorongnya dari tepian. Perahu ini digerakkan dengan mesin kecil berkekuatan 5PK. Hanya mampu berlari sekitar 5 kilometer per jam. Jika sedikit saja gelombang, maka kecepatannya akan dikurangi, atau resikonya, terbalik.

Rute yang dilalui perahu tersebut sangatlah ekstrim: rawa yang dipenuhi alang-alang. Lebar lorong di tengah rawa beragam. Mulai dari yang seukuran seperempat meter [sama dengan ukuran perahu], hingga ada yang lebih dari satu kilometer. Rawa-rawa itu menjurus ke kali besar, masyarakat menyebutnya Kali Bian, kali yang airnya berwarna coklat kehitaman. Dengan perahu seperti inilah, akses antar desa untuk masyarakat beraktifitas di pedalaman Distrik (kecamatan) Muting, Merauke, Provinsi Papua dilalui.

Ada sebuah keunikan dari rawa-rawa yang dikunjungi Cahyo Yuwono, Jumat, pada pekan pertama Februari 2015. Hujan masih rutin turun, setidaknya, dari empat hari di Merauke, hujan turun 2 kali. Nah, di kala hujan, rawa-rawa dipenuhi air. Perahu kecil yang biasa disebut keting-ting itu bisa ditambatkan hingga ke pinggiran jalan besar di dekat pusat kabupaten Muting. Namun, jika hujan tak turun beberapa hari saja, maka perahu harus ditambatkan di sungai. Jauhnya, lebih dari 10 kilometer, dan rawa itu bisa dilalui kenderaan bermotor. “Sangat ekstrem,” kata Cahyo.

“Agustus lalu kita pakai motor di rawa-rawa itu,” kenang Serti Timang, guru asal Toraja, yang mengajar di Kampung, Boha, kampung di sebuah pulau yang jaraknya sekitar 3 jam dengan keting-ting. “Kalau kemarau debunya banyak, tapi jika hujan maka rawa pasti penuh dan kita pakai keting-ting.”

Dari distrik Muting, Cahyo menyeberang menjelang malam, saat langit mulai kemerah-merahan. Hanya tersisa tiga perahu dengan tujuan berbeda. Bersama dua orang dari pulau Jawa, Cahyo menyeberang dengan keting-ting yang dikemudikan Andra Jati Nugraha, relawan guru yang mengajar di Kampung Waan. Tujuan malam itu, Kampung Boha. Perjalanan diperkirakan sekitar 2 jam.

Saat malam, mendung mulai menggelayut. Langit gelap sepenuhnya. Angin bertiup kencang. Andra tak sepenuhnya menguasai rute perjalanan. Ia jelas tak dapat mengemudi seorang diri, dan kemudian dipandu Faatih Rijalul Haq. Faatih memegang senter, mengarahkan ke beberapa sisi, mencari jalan yang tepat menuju Kampong Boha. Ada beberapa bekas belahan alang-alang yang dapat dilewati perahu. Bentuknya seperti persimpangan jalan. Beberapa kali perahu harus menembus ilalang serupa padi yang panjang.

Suasana semakin ekstrim. Perahu tersesat dua kali. Di tengah rawa yang gelap, mesin keting-ting ikut mati. Lalat-lalat kecil semakin banyak, menyerbu cahaya senter. Bagusnya, langit perlahan mulai cerah. Semakin cerah, saat perahu terdampar pas di tengah ilalang. Andra mulai mengayuh. Faatih menancapkan bambu ke tanah, mendorong perahu keluar dari ilalang. Sepertinya air tak terlalu dalam, sekitar 5 meter saja. Dua kali mesin keting-ting dihidupkan, tapi mati lagi. Perjalanan dilanjutkan dalam kesunyian. Perjalanan yang sebelumnya diperkirakan 2 jam molor hingga 3 jam lebih.

Andra dan Faatih memang tak sepenuhnya menguasai rute ke kampung jika malam hari. Maklum, dua mahasiswa asal Semarang ini baru enam bulan menetap di Distrik Muting. Mereka ditugaskan sebagai relawan guru oleh sebuah yayasan di Kampung Waan. Kampung ini merupakan gundukan tanah yang membentuk pulau kecil yang dihuni sekitar 80 Kepala Keluarga. Di sana, mereka mengabdi dengan mengajar di sekolah dasar. Keduanya hanyalah mahasiswa tingkat akhir di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Di Waan, Andra dan Faatih sekaligus mengikuti perkuliahan KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan PPL (Praktek Pengalaman Lapangan). Sedangkan Cahyo, adalah dosen pembina yang menjenguk, memonitoring aktivitas mahasiswanya. Tak hanya Andra dan Faatih. Ada 13 mahasiswa Unnes lainnya yang mengabdi di Papua. Lima di Merauke dan 10 di Kabupeten Keerom, Jayapura.

Kampong Boha tampak di kejauhan dari sinar lampu yang remang. Muhammad Abdullah Amnan memberi kode. Senter dikedipkan beberapa kali. Di sana letak dermaga. Perahu menepi, kemudian ditambatkan.

Malam itu, di Boha, lampu hanya menerangi dua unit rumah guru, sekolah dan gereja. Listrik menyala dengan mesin diesel punyanya sekolah, yang hanya dihidupkan menjelang malam hingga pukul 23.00 WIB. Cahyo, yang datang bersama Andri menginap di salah satu rumah guru. Rumah panggung yang hanya ada satu kasur tipis. Mereka ikut ditemani Andra dan Faatih.

Daud, warga Boha mengatakan, ada tiga mesin diesel di kampong Boha. Diesel itu ditempatkan di RT 1, RT 2, dan diesel sekolah. “Diesel kampung lagi tidak ada solar,” kata Daud tertawa.

Kampung Boha hanya punya satu sekolah. Sekolah Dasar YPPK Boha saja. Tak ada sekolah lanjutan. Tamat SD, hanya ada dua pilihan bagi anak: keluar kampung untuk melanjutkan sekolah di Distrik, atau memilih ikut orang tua berburu dan mencari makan di hutan. “Kesulitan di sini ya itu,” kata Amnan. “Orang tua mereka masih kurang peduli akan pendidikan. Mereka lebih memilih mengajak anak berburu daripada menyuruh sekolah.” Sudah menjadi kebiasaan, anak-anak pedalaman Papua mencari makan sendiri. Tak heran jika menemukan anak kelas 5 dan 6 masih belajar mengeja.

Amnan tak sendiri. Sudah sepekan ia ditemani oleh tiga guru kontrak Pemerintah Daerah Merauke. Di Boha juga ada Elyas B Ndiken, dewan lingkungan gereja yang mengajar, serta seorang guru lokal. Dua guru PNS tak terlihat. Untuk menambal kekurangan guru, pemerintah menempatkan guru-guru yang dikontrak per tiga tahun di pedalaman Merauke. Karena, sudah menjadi rahasia umum, jika di pedalaman, guru yang statusnya pegawai negeri hampir tidak pernah mengajar. Mereka bahkan tinggal di distrik, membuka usaha lain. “Jarang ada guru yang sadar dan mau menetap di sini. Dulu saya mengajar sendiri saja,” kata Amnan.

Ketika dikirim akhir Agustus lalu, kata Amnan, semua anak-anak memang hampir sama sekali tak bisa membaca. “Mengenal huruf pun tidak. Sampai saat ini anak kelas 5 masih juga yang tidak bisa membaca sama sekali,” katanya. “Ketika saya ke sini, saya mulai membiasakan menyanyikan lagi Indonesia Raya tiap hari, mengajar membaca dan tata karma.”

Amnan menyebutkan, sangat berbeda mengajarkan anak-anak di kota dengan pedalaman Papua. “Mereka tidak bisa diajarkan dengan teori. Harus dengan praktek langsung. Mereka terbiasa dengan cara alam. Apapun yang dipelajari, harus segera dipraktekkan,” ujar Amnan.

Elyas menuturkan, kehadiran Amnan sangat dirasakan masyarakat. Apalagi, Amnan, kata Elyas, menjadi penggagas pendidikan usia dini di Boha. “Minta maaf pak ya, anak-anak di sini rata-rata tidak bisa membaca dan menulis. Menghitung saja yang sudah bisa. Pak Amnan yang banyak mengajarkan anak-anak membaca,” kata Elyas. “Masyarakat minta Pak Guru Amnan tinggal saja di Boha.”

Kondisi SD Boha tak terlalu buruk. Kelas-kelas memang masih semi permanen. Bangku-bangku panjang untuk anak-anak belajar. Hanya ada tiga kelas. Jadinya, kelas 1 dan 2 disatukan, begitu seterusnya kelas 3-4 dan 5-6. Jadinya, jika sendiri, maka Amnan akan mengajar bergantian untuk dua kelas di satu ruangan. Anak SD Boha berseragam lengkap. Tapi hanya sebagian yang bersepatu. Mereka nyeker ke kelas, sambil mengapitkan buku di antara ketiak dan pensil pendek serta pulpen di daun telinga.

***

PAGI YANG TENANG. Cuaca tak terlalu berangin. Jadinya sungai tak bergelombang. Keting-ting berjalan pelan di tengah rawa, meninggalkan gelombang di belakangnya. Kali ini Andra membawa Cahyo meninggalkan Boha, menuju Kampung Kolam. Jarak antar kedua kampung sekitar satu jam.

“Kalau airnya sedikit bisa lebih jauh. Rawa dangkal, kita tidak bisa lewat sini” kata Andra. Perjalanan lebih banyak dilalui dari rawa yang berdekatan dengan gundukan-gundukan pulau kecil yang membentuk hutan. Tempat di mana burung amat banyak. Bahkan bebek rawa, bebek yang bisa terbang yang oleh masyarakat sekitar disebut Burung Boya—dibaca boha, terlalu banyak.

Di Kolam, Cahyo akan menjumpai Ikhsan Ansori dan Siswoyo Heri Kiswanto. Keduanya juga mahasiswa olahraga Unnes Semarang. Dari jauh hari, Cahyo sudah memberi tahu kedatangannya lewat pesan pendek. Kampung-kampung di pulau terpencil ini sebenarnya tak mempunyai jaringan telepon yang bagus. Hanya di beberapa titik tertentu saja, sinyal kadang ada. Itupun berbicara lewat telepon harus dengan menghidupkan speaker dan bicara dengan teriak-teriak; kadang suara suka tak jelas.

Kampung Kolam telah tampak. Rumah-rumah kecil dari kayu telah menyembul di permukaan. Saat memasuki daratan tanpa dermaga di tengah alang-alang, perahu ditambatkan. Tiga anak langsung mendekat. “Kau tahu di mana pak Heri?,” tanya Andra. “Pak guru di sekolah. Pak guru di sekolah. Pak guru di sekolah,” kata mereka hampir serempak. Anak itu kemudian mengantar Cahyo ke sekolah SD YPK Santo Lukas Kolam.

Masyarakat pedalaman Papua terlihat amat sopan. Senyum tak pernah lekang di wajah mereka. Sapaan awal ketika berjumpa dengan para guru adalah; selamat pagi, selamat siang, selamat sore pak guru. Selalu itu yang mereka ucapkan, sambil tersenyum, berlalu sambil tertunduk. Itu juga kesan pertama yang dirasa Cahyo. Kata selamat itu telah dihafalnya dengan baik, dan selalu ia pakai saat awal berjumpa dengan masyarakat Papua; “pagi mama, pagi papa”.

SD Kolam tampak lebih tertata. Meski lebih sederhana dari SD Boha. Tak ada lukisan-lukisan yang menempel di dinding. Hanya sebuah papan hitam yang ditulis kapur, meja guru, sebuah lemari di pojok ruangan, dan puluhan anak yang memenuhi ruangan. Kedatangan Cahyo disambut koor anak-anak: “selamat siang bapak guru.” Mereka, siswa yang sekolah tanpa alas kaki dan seragam. Di depan Cahyo, mereka unjuk kebolehan. Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Dari Sabang Sampai Merauke dengan pengucapan huruf E yang terdengar sangat kental.

Sekolah ini sebenarnya sudah ditutup di akhir semester tahun ajaran 2013. Tak ada guru yang mau mengajar di sini. Hingga kemudian Ikhsan dan Heri tiba, sekolah ini kembali dibuka. Ihwal ceritanya, permasalahan masyarakat dengan guru. Guru yang sebelumnya menetap, punya beragam polah. Ada yang malas, hanya datang sekali sebulan untuk ambil gaji. Ada pula guru lokal yang berambisi menjadi kepala sekolah. Para guru juga tak segan memukul anak, hingga menangis bahkan pingsan. Hal itulah yang membuat masyarakat Kolam marah, dan kemudian sekolah terhenti.

Ikhsan dan Heri telah dicerita perihal sekolah di Kolam oleh Serti Timang saat mereka tiba, akhir Agustus lalu? “Tetap di kolam, atau kita pindahkan ke Boha dan Waan saja,” kisah Serti saat itu. Serti adalah kepala sekolah SD Boha yang mengantarkan Ikhsan dan Heri ke Kolam dan Andra serta Faatih ke Waan.

“Tapi kita tetap pilih Kolam. Dari awal hati saya merasa tergetar melihat di media, bahwa orang Papua sangat butuh sentuhan pendidikan,” kata Ikhsan. “Saya juga tidak pernah membayangkan akan di sini. Awalnya bahkan ketakutan. Banyak yang bilang, di sana masih ada yang makan manusia, banyak yang ingin merdeka. Ternyata setelah tiba di sini berbeda. Mereka baik-baik,” kata Ikhsan. Ia bahkan berkeinginan untuk kembali, suatu hari nanti.

Awal di Kolam, masyarakat bahkan bertanya keseriusan mereka untuk tinggal dan mengajar. Melihat keinganan yang besar, masyarakat mendukung. Mengumpulkan anak-anak, bersama membersihkan dan mengaktifkan kembali sekolah.

“Satu bulan kita coba adaptasi. Masyarakat di sini beda dengan di Jawa. Mereka wataknya keras. Ketika ada sedikit salah dan tidak suka, mereka langsung kekerasan dan ambil parang dan busur,” ujar Ikhsan ketawa. “Mengajar di pedalaman butuh kesabaran.”

Yang membuat Ikhsan dan Heri termotivasi untuk tetap tinggal adalah banyaknya anak-anak di Kampung Kolam. Mereka yang usia Sekolah Dasar saja mencapai 80 orang. “Apalagi sekolah sudah terhenti 5 bulan. Belum lagi SD Kolam ini, satu tahun sekolah, satu tahun libur, bagaimana anak-anak,” kata Ikhsan. “Rasa iba guru di sini saya rasa kurang. Kenapa mereka harus mengajar dengan baku pukul?.”

Bagi Ikhsan, anak Papua adalah anak yang mengasikkan. Mengajarkan mereka haruslah dengan mengajak belajar sambil bermain. Tantangan terberat justru ada pada orang tua. Meyakinkan orang tua agar tak mengajak anak untuk berburu atau mengambil sagu saat jam sekolah. “Mereka mulai tahu sebetulnya. Tapi masih sepele,” kata Ikhsan. “Kondisi fisik memengaruhi anak-anak dalam belajar,” timpal Heri.

Kondisi itu membuat anak memang dominan buta aksara. Hingga 3 bulan lamanya, Ikhsan dan Heri terus melatih mereka membaca. “Dulu itu masih nol. Mereka buta huruf sama sekali,” ujar Heri prihatin. “Sekarang sudah bisa membaca huruf-huruf panjang, dan kita mulai mengajar mereka berhitung.”

“Saya punya satu pemikiran, bahwa saya harus membuat anak-anak dari tidak bisa menjadi bisa. Waktu 11 bulan di sini waktu yang cepat. Tidak mungkin mencerdaskan anak dalam tempo 11 bulan,” ujar Heri

Ketika awal datang, yang ditanamkan di benak anak Kolam adalah rasa nasionalisme. Mereka tak hafal lagu Indonesia Raya. Bendera tak pernah berkibar di SD Kolam. “Padahal mereka juga orang Indonesia yang punya hak dan kewajiban untuk memperoleh pendidikan yang sama dengan masyarakat lain di perkotaan. Meskipun ini pedalaman, ini adalah Indonesia.”

Heri patut berbangga. Saat ini, merah-putih telah berkibar tinggi seperti apa yang ia cita-citakan. Anak-anak pun lancar menyanyikan lagu Indonesia raya, dan lagu bertema nasionalisme lainnya. Mereka kita mulai bisa membaca, meski belum sepenuhnya. “Ketika saya pulang, mereka tahu baca, tahu lagu kebangsaan, merah-putih berkibar, saya sangat bangga,” ujar Heri.

***

ANDRA MENEMPATKAN PAPUA pada memori terdalam di pikirannya sebagai daerah yang istimewa. Sebuah keunikan yang baginya merupakan keistimewaan. “Dalam satu daerah bahasa mereka bisa berbeda-beda, tapi bahasa Indonesia semuanya bisa, padahal berbeda suku,” ujar Andra. Tercatat sekitar 25 suku asli Papua (antar sesama suku sebagiannya tersebar di Papua Nugini dan di daratan Australia). Dari suku-suku itu pula, bahasa bisa saja berbeda. Semua hanya disatukan dalam satu bahasa kesatuan: Bahasa Indonesia. “Kalau suku lain belum tentu semuanya menguasai bahasa Indonesia.”

Andra, adalah mahasiswa tingkat akhir kampus olahraga, Unnes Semarang. Ia mengajar di Kampung Waan, bersama Faatih Rijalul Haq. Kampung Waan merupakan kampung paling akhir yang dikunjungi Cahyo. Jarak antara Kolam dan Waan hanya sekitar sejam saja. Sedikit melewati alang-alang dari Kolam, keting-ting langsung masuk ke Rawa Besar. Ukuran rawa ini lebih besar dari Kali Bian sendiri. Barangkali lebih dari satu kilometer. Perahu di ujung rawa hanya tampak bagai benda kecil yang bergerak amat pelan. Rawa yang besar membuat perahu sedikit bergoyang karena gelombang yang ditimbulkan angin yang bertiup agak kencang. Cahyo mengeratkan pegangannya di pinggir keting-ting. “Saya menyebut mereka mahasiswa rawa,” kata Cahyo tertawa. “Ini PPL dan KKN yang sangat ekstrim.”

Saat pertama dikirim ke Muting, Andra dan Faatih membayangkan, Kampung Waan adalah tempat yang lebih tertinggal dari Boha dan Kolam. “Kita pergi sekalian. Ke Boha dulu. Melihat di sana, aduuuh,” katanya. Dari Boha, mereka menuju Kolam. Andra tambah terperanjat. “Sekolah tutup. Rumput setinggi dada. Kok seperti ini. Saya langsung membayangkan, kalau di Waan pasti lebih buruk,” tambahnya. “Dalam pikiran saya suasana pasti sangat ekstrim. Apalagi dengan anggapan orang, di sini sangat ganas,” timpal Faatih.

Apa yang mereka pikirkan ternyata salah. Kampung Waan lebih tertata dari Boha dan Kolam. Rumah-rumah dibuat berjejer seperti huruf L, yang di kedua ujungnya ada dermaga tempat keting-ting berlabuh. Pekarangan rumah warga pun lebih rapi. Pendidikan di Kampung Waan juga lebih maju. Hanya sedikit saja anak di Waan yang buta aksara. Ternyata, ada Darwanto dan istrinya, dua guru transmigrasi dari Jawa yang mau menetap di Waan. Meski, sejak Agustus 2014 lalu kepala sekolah tidak pernah hadir ke Waan. Sayang, Cahyo tak menjumpai Darwanto. Istrinya melahirkan. Darwanto turun kota. Sekolah kini di bawah kendali Andra, Fatih, dan dua guru lokal lainnya.

“Sampai di sini, bergabung dengan orang berkulit hitam, berambut keriting, itu sama saja ternyata. Yang berbeda pola pikirnya saja,” kata Faatih.

Andra adalah salah seorang guru yang amat betah tinggal di Waan. Keseriusan itu membuat Darwanto memberikan keting-tingnya bebas dipakai Andra. Warung kecil di rumah Darwanto pun diserahkan ke Andra selagi ia membawa turun istrinya melahirkan di Muting.

Andra bahkan ia berkeinginan untuk kembali ke Waan setelah menyelesaikan skripsinya di Semarang.”Saya ingat nasihat orang tua, bahwa yang paling bahagia yang kita bisa bawa mati hanya tiga; anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat dan amal jariah. Saya ingin ilmu saya bermanfaat. Meski jauh dari orang tua, dengan tekad dan bismillah,” ujar Andra. Faatih juga punya niatan untuk menjalankan prinsip, bahwa pendidikan adalah ibadah. “Saya mau menjauhi zona nyaman,” kata Faatih

“Bagi saya di sini menyenangkan. Apalagi beban pikiran di sini tidak banyak. Saving keuangan tidak membengkak. Masyarakat juga sangat ramah,” ujar Andra.

Kebiasaan orang pedalaman Papua merupakan kendala terbesar dalam mengajar. Anak kecil, ketika ia mulai mampu bekerja, berapa pun usianya harus mencari makan sendiri. “Anak-anak ketika sudah mampu cari makan, pasti dilepas,” kata Andra. Jadinya, proses belajar hanya ada di sekolah. “Setelah itu mereka liar. Ada yang cari makan seperti panggul sagu, dan bermain. Itu mainset masyarakat di sini. Pola pikir mereka yang harus kita ubah,” kata Andra.

Partisipasi masyarakat memang mulai tampak nyata semenjak Andra dan Faatih tinggal. Mereka rutin bersosialisasi ke warga, perihal pentingnya pendidikan. Apalagi perusahaan-perusahaan sawit mulai masuk membabat hutan di kawasan Boha. “Jika ibu-ibu hanya mengandalkan kehidupan dari Kali Bian, dan meski ikan di sana tak akan habis, itu tidak bisa. Sumber daya alam akan semakin berkurang. Zaman semakin maju,” kata mereka ke masyarakat. Hal itu sedikit membuka mata masyarakat.

Apalagi dengan kenyataan, ikan di Bian agak sulit didapat sejak perusahaan sawit ada. “Dulu pas awal dibuka sawit, ikan-ikan mati,” kata Nabas. Ia menyebutkan, perusahaan membuang sesuatu ke aliran Kali Bian yang menyebabkan ikan-ikan mati (mungkin limbah sawit. Karena biaya membuka kebun di sana lebih murah daripada membuat aliran limbah. Biaya tanah di sana sekitar 1-2 juta per hektar). Nabas adalah warga Waan yang bekerja di perusahaan sawit di Boha.

Ketertinggalan memang tampak sangat kentara di sini. Listrik negara belum menyentuh daratan Waan. Jaringan telekomunikasi juga tak ada. Tak ada satu kendaraan bermotor pun yang dimiliki warga. Pernah suatu ketika, cerita Andra, sepeda motor, entah milik siapa, melintas di depan sekolah. Semua anak yang lagi belajar, berdiri dan melihat semua. “Melihat sepeda motor saja merupakan hal yang luar biasa bagi mereka. Kita satu Indonesia toh, tapi kenapa kita berbeda,” ujar Andra sedih.

Di lain waktu, Andra menunjukkan foto-foto di pulau Jawa dari laptop miliknya. “Lampu menyala ya bapak guru?.” Suatu yang amat miris. “Kasihan mereka. Mereka tidak bisa merasakan seperti apa yang dirasakan anak usia mereka.”

Andra mengakui, susah mengajak anak-anak pedalaman untuk maju. Karena hidup mereka dibentuk oleh alam. Alam lah yang dianggap segala-galanya. Alam memberi penghidupan yang cukup. Mau makan tinggal berburu atau mengambil sagu. Tapi sampai kapan? “Kita bilang pendidikan, masih ada yang ngomong, ah, kita masih bisa mengantungkan hidup di alam. Masih ada yang tidak mau berpikiran maju.”

Di sekolah pun, hanya rotan yang bisa membuat mereka patuh. Berbeda dengan daerah lain, di sini, orang tua langsung yang meminta guru untuk merotan anaknya yang membandel. Seorang pendeta pun pernah mendatangi Andra. “Dia bilang, di ujung rotan itu ada emas kebaikan.” Andra selalu ingat pesan pemuka agama Katolik itu. Maksudnya, dari zaman dahulu sampai sekarang, di sini rotan adalah benda untuk memperbaiki sikap mereka, anak Papua.

Bulan Juni nanti, Andra akan kembali ke Semarang. Melihat realita, ia yakin sekolah di Waan akan tetap berjalan. Tapi ia khawatir dengan sekolah di Kolam. “Di sini masih ada sosok guru yang bertanggung jawab, beda dengan sekolah lain di kawasan Kali bian ini, seperti di Boha dan Kolam. Kalau kita pulang, saya yakin masih ada secercah harapan dari kampung Waan ini,” katanya.

Seorang ibu yang berbelanja di warung yang dijaga Andra terlihat sedih saat ditanyai hal kepulangan Andra. Ia lama terdiam. “Pak guru pulang, anak-anak…” ia menggantungkan jawabannya.

Keberadaan Andra dan Faatih memang sudah sangat diterima masyarakat. Bahkan jika dua hari saja mereka turun ke kota untuk belanja perbekalan, ibu-ibu Kampung Waan bakal berkunjung ke rumah, membawa apa pun yang bisa mereka bawa. “Pak guru kenapa tidak mengajar? Pak guru tak ada makan?,” begitu masyarakat menerima keberadaan mereka.

Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Merauke, Felix Liem, mengatakan kehadiran guru dari Unnes Semarang, sangat membantu pendidikan di daerahnya. “Mereka cukup mampu menggerakkan pendidikan yang dianggap cukup macet di pedalaman ini,” kata Felix.

Bagi Felix, transportasi ke Boha, Kolam dan Waan masuk belum masuk kategori sulit. Masih ada distrik-distrik lain seperti Distrik Wan. Bayangkan saja, jika dari Muting menuju ke Boha, Kolam dan Wan, hanya butuh biaya sekitar 1-2 juta per sekali carter keting-ting, maka jika ke Distrik Wan, biaya carter perahu mencapai puluhan juta rupiah. “Jadi bisa dibayangkan distrik yang lebih sulit lagi, kondisinya seperti apa,” kata Felix. Distrik Wan berada di bagian selatan Pulau Kinaam.

Faktor geografis, kata Felix menjadi tantangan terberat dalam pengelolaan pendidikan di pedalaman Papua. Posisi sekolah di tempat yang sangat terpencil. Medannya yang hanya dapat dilalui transportasi air dinilai sangat berat. “Tentu sangat menyulitkan guru yang bertugas di sana,” akunya.

Dinas Pendidikan, kata Felix, sedang gencar-gencarnya mempersiapkan fasilitas tempat tinggal guru, untuk memperlancar tugas. Bahkan, kata Felix, sekolah dasar tak mesti harus enam kelas, karena tempat tinggal guru kini menjadi yang utama. “Saya kira kepala sekolah harus bisa melihat mengatasi permasalahan. Kelas tidak harus berpatokan lengkap enam ruang. Ruang kelas yang ada biar guru yang tempati. Siswa belajar di bawah pohon tidak apa-apa. Yang penting guru ada tempat tinggal,” katanya.

Kekurangan guru di pedalamanan juga menyangkut dengan kualifikasi guru S1. Dalam undang-undang UU No.14 tahun 2005 yang mengatur tentang kualifikasi guru dan dosen disebutkan, bahwa 10 tahun setelah ditetapkan undang-undang tersebut, guru haruslah berijazah S1 atau minimal D4. Jika tidak, yang bersangkutan akan dilarang mengajar, dan posisinya langsung diturunkan ke pegawai administrasi atau non guru. Undang-undang itu ditetapkan 30 Desember 2005. Berarti, tenggat 10 tahun akan jatuh di akhir Desember tahun ini.

“Undang-undang itu juga mempengaruhi jalannya pendidikan di pedalaman sini. Jadi banyak guru SD di pedalaman yang belum S1, mereka turun untuk melanjutkan kuliah,” kata Felix.

Menyangkut guru yang telah lulus kualifikasi, tapi masih membandel dengan tetap tidak mengajar, Felix menyebutkan, pemerintah bakal memberi sanksi tegas. “Untuk awal insentif guru kita tidak dibayar. Kalau dua sampai tiga bulan tetap tidak masuk penahanan gaji pastinya.”

***

HARI MASIH PUKUL 8 PAGI, saat Cahyo berkunjung ke Walay, sebuah kampong di Distrik Senggi, Kecamatan Keerom, Jayapura, di hari kedua Februari 2015. Cahyo Yuwono mengunjungi 6 sekolah dasar di Jayapura. Tiga berada di Distrik Web, tiga lainnya di Senggi, salah satunya Walay.

Saat pagi baru datang, SD YPK Farwasi Walay, Dusun Walay Kampong Molof begitu sepi. Belasan anak-anak bukannya masuk kelas, tapi keluar lewat gerbang gereja, pulang ke rumahnya. “Pak guru masih di atas,” kata seorang anak. SD Walay hari itu tak buka. Guru yang biasa mengajar, Faha Ferius, terbaring sakit di rumahnya. Saat berjalan, lelaki tua yang mulai beruban ini terlihat tertatih. Tiga anaknya mengawal di sisi Feri.

SD Walay terlihat sangat tidak terurus. Rumput setinggi dada orang dewasa tumbuh liar di halamannya. Tak ada lapangan bermain bagi anak, semua ditutup ilalang. Pintu masuk sekolah pun tak ada. Jika hendak masuk, haruslah berputar melalui gerbang gereja yang berada di samping sekolah. Feri mengakui, kepedulian guru dan masyarakat sangat kurang akan pendidikan. “Di sini 90 persen pendidikan dari guru. Hanya 1 persen dari masyarakat,” katanya. “Jika tak ada guru tidak berhasil.”

Tapi sayang, hanya Feri yang mengajar seorang diri. Guru-guru lainnya, kata Feri tidak menetap karena masyarakat tidak suka kehadiran guru tersebut. Kondisi tersebut, akunya, diciptakan sendiri oleh para guru. Rasa tanggungjawab tidak ada. Menjadi guru itu nomor dua bagi mereka. “Istilahnya, tungku api, sendok dan makannya mereka tak di tempat. Saya itu asli merauke, makan dan berak di Molof,” katanya sedikit kasar. “Masyarakat tidak menerima karena kelakuan kita. Guru tidak tekun tugas, ada bisnis sampingan membuat masyarakat tidak terima. Ada guru yang jadi agen miras, ada pemain kayu.”

Di Keerom, perambahan hutan memang terlihat terjadi besar-besaran. Selama tiga hari Cahyo di sana, ratusan truk lalu-lalang mengangkut kayu. Jarak antara kayu yang dipotong dengan jalan raya sekitar 10 kilometer. Artinya, telah 10 kilometer hutan habis dibabat di sana. Truk pengangkut kayu itu juga terlihat singgah di pos TNI, sambil terlihat menyerahkan sesuatu. Barangkali itu uang untuk memuluskan proses penurunan kayu dari Waris.

Maksud Feri, guru-guru banyak bermain bisnis kayu. Di samping juga menjadi penjual miras yang amat diminati masyarakat pedalaman Papua.

Falsafah hidup yang dipegang erat Faha Ferius membuat ia betah mengabdi di Walay. “Tulus seperti merpati cerdik seperti ular,” katanya “Ketulusan dalam bekerja haruslah seperti merpati. Orang yang berhasil bisa menjinakkan ular dari kelakuannya. Saya menjaga sekolah ini karena saya yang melahirkannya. Sama halnya dengan ibu, sekolah ini anak pertama saya. Saya bakal selalu mengenangnya.” Feri merupakan perintis SD Walay, sekolah yang ia buka medio 1996 lalu. Sekolah ini dulunya ada di gereja yang bersisian dengan sekolah. Setahun berjalan, pemerintah membangun ruang belajar sederhana di lahan gereja.

Feri sama dengan pendidik lain yang merindui kemerdekaan. Ia berpantun sambil tersenyum getir: di sana rindu, di sini rindu. Di tengah-tengah seperti ini. Ini ada apa?” ujarnya. “Indonesia merdeka, tapi melihat pendidikan di sini, ada apa ini?,” tanyanya.

Cahyo yang datang mengantar Fani Parantya, muridnya untuk mengabdi di Walay diterima dengan tangan terbuka. Barangkali relawan guru dari Semarang ini adalah salah satu jawaban dari kekosongan guru di Walay. Tapi Fani sebenarnya telah diantar akhir Agustus lalu. Beberapa masalah di masyarakat membuat ia ditarik kembali, dan ditempatkan di SD Usku, jaraknya sekitar satu jam dari Walay.

Fani tak menyangka, bahwa pendidikan di Papua semiris itu. “Pertama masuk Papua, langsung istilah kasarnya dibuang ke hutan,” kata Fani. Pandangannya kosong, memikirkan bagaimana hidup di sini, melihat rumah dinas yang kosong. Tidak ada tungku masak. Tak ada tong air. “Mandi gimana, masak gimana. Rumahnya di dalam hutan. Lewat pemakaman. Saya takut sudah,” ujarnya mengenang.

Markus Niko Pahanail, guru kontrak SD Inpres Usku mengakui pendidikan di Papua amat memperihatinkan. “Banyak guru,tapi realitasnya ternyata kurang,” kata pria asal Kupang ini. Di Usku sendiri, sekolah disegel karena pemerintah tak kunjung membayar tunjangan transportasi bagi guru. Padahal sebentar lagi ujian nasional datang. Pemilik tanah tempat sekolah dibangun pun bahkan mengacam akan membakar sekolah jika siswa tak bisa mengikuti ujian nasional tahun ini. “Kita bahkan diungsikan. Kepala desa tidak tidak sanggup menghadapi orang-orang desa,” kata Anugrah Tri Wijayanto, salah seorang guru.

Di Usku, ada dua guru asal Unnes yang mengajar, yaitu Anugerah Tri dan Catur Romadoni. Dua lagi, yaitu Risqi Darmawan dan Fani Farantya adalah guru titipan. Darmawan baru diantar ke sekolah penempatannya di SD YPK Nambla, yang jaraknya sekitar satu jam lagi dari Usku. Nah, sementara mengunggu diantar, mereka tinggal dan mengajar di Usku. Namun sayang, rumah yang mereka tempati dibobol warga. Kaca-kaca dipecahkan. Barang diobrak-abrik. Di dapur, setumpuk kotoran manusia dibuang. Masalah itu membuat mereka kemudian ditarik. Catur dipindahkan ke SD Yabanda, dan Anugrah Tri dipindahkan ke Walay.

“Di sini bukan teknik mengajar, mata pembelajaran apa yang diajarkan, tapi lebih pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya pendidikan. Itu yang awal harus ditanamkan,” kata Catur. Sekolah ini sebenarnya lebih bagus dari sekolah lainnya yang ada di Keerom. Bangunannya telah semi permanen. Ada ruang pertemuan juga. Tapi sayang, dukungan masyarakat masih sangat kurang. “Ke depan saya harap harus ada dukungan orangtua dan lapisan masyarakat. Bahwa pendidikan itu penting untuk masa depan anak,” kata Catur.

Sekitar 4 jam perjalanan dari Senggi, Cahyo menjumpai Evanda Hirda Pratama. Guru yang mengajar di SD Yabanda. Sekolah ini lebih mirip barak pengungsian. Dibangun serupa balai-balai berjejer yang di depannya ada sedikit beranda untuk bermain. Rumput di depan sekolah seukuran mata kaki orang dewasa. Di pojok depan sekolah, sebuah lapangan bola volley. Di sanalah, Evanda kerap memberi latihan bermain volley kepada masyarakat.

Evanda barangkali adalah sosok yang amat dihormati di Yabanda. Ia adalah pengibar merah-putih pertama di sekolah yang tak terlalu jauh dari Papua New Guinea, itu. Sebelum sampai di Keerom, Agustus lalu, Evan sudah membayangkan potret buram pendidikan di pelosok Papua. Nah, apa yang ia bayangkan adalah suatu hal yang amat lumrah, sekaligus sangat menyedihkan.

Hal pertama yang ia tanyakan, apa itu pancasila? bagaimana lafalnya dan coba nyanyikan lagu Indonesia Raya. Mereka tidak tahu. “Itu menampar muka saya. Ini dasar negara saya, dan ini harus saya tanamkan terlebih dahulu ke mereka,” kata Evanda. Bukan hanya itu, SD Inpres Yabanda juga tak tak pernah mengibarkan bendera merah-putih. Mereka tak pernah mengawali Senin pagi dengan upacara bendera. Sebuah pekerjaan rumah awal yang segera Evan siapkan. Ia menjadi penggagas upacara yang menabik sang saka sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya.

SD Yabanda mempunyai 5 orang guru. Kepala sekolah harus mengajar juga. Menurut Evan, jika saja pemerintah lebih peduli, hal ini tidak terjadi di Keerom. Evanda melihat, pemerintah masih abai. Tak heran jika kemudian menemukan anak kelas 5-6 tak bisa baca-tulis. Evan mengajar dengan metode aplikatif. Di mana, mengajarkan dengan sesuatu yang lebih akrab bagi anak, yaitu tak hanya dengan verbal, melainkan dengan contoh-contoh.

Murid-murid, mungkin tak mengetahui hasil 2+2 jika ditanyai dengan verbal. Tanyakan ke mereka, 2 gula-gula (permen) + 2 gula-gula, hasilnya berapa? Semua kompak menjawab 4. Metode seperti itulah yang dipakai oleh Evanda untuk mengajari anak-anak Yabanda di Keerom. Saat ini pun, perlahan para murid mulai menguasai baca-tulis dan berhitung.

Keunikan lainnya, di sekolah ini anak-anak dari Papua New Guinea juga belajar. Mereka adalah siswa dari kampung Mambruk, dari Suku Vam Miala. Suku ini rata-rata bersaudara dengan penduduk Keerom. Nah, sebuah kesulitan mengajarkan mereka adalah bahasa. Kadang, Evanda memakai anak setempat untuk menjelaskan maksudnya kepada anak dari Papua New Guinea ini. Menurut beberapa masyarakat setempat, warga Mambruk ini adalah pelarian dari PNG. Negara ini tak mengakui kewarganegaraan mereka. Jadilah mereka sebagai warga tak bernegara yang belajar di Indonesia.

Pendeta Yabanda, Yacob Tahlele, mengatakan kehadiran Evanda merupakan berkah. “Kita bersukur dia sangat setia. Ketika guru lain tak hadir, dia pasti hadir. Ia sangat rindu anak-anak ini menjadi pintar selaku anak bangsa yang berguna bagi bangsa dan negara,” kata Yacob. Memang benar, telah sepekan lebih Evanda mengajar seorang diri. Para guru pegawai negeri dan guru kontrak lagi libur. Liburan yang amat panjang.

***

“Saya berniat membagikan nasionalisme anak-anak papua,” kata Bagus Dwi Minarno, akhir Januari lalu.

Bagus melihat, anak Papua sebetulnya bisa. Hanya saja keterbatasan yang dimiliki anak-anak membuat mereka sulit menerima apa yang diberikan guru. Lihat saja, saat pertama datang, angka buta huruf begitu dominan. Bagus mengajar di SD Yayasan Pendidikan Katolik Ubrub, Distrik Web, bersama Azis Saifuddin dan Anggi Dwi Laksono.

Karakteristik anak Ubrub, dan barangkali anak pedalaman Papua pada umumnya berbeda dengan anak di pulau Jawa. Metode mengajarkan pun mirip pendidikan usia dini: mengajar sambil bermain. Para guru seperti Azis, Bagus dan Anggi, mengajarkan lagu-lagu nasionalisme sebanyak-banyaknya. Mengajarkan Pancasila, serta upacara sebelum sekolah. “Orang-orang Papua ini krisis nasionalisme. Mereka terpinggirkan secara pembangunan. Jadi di sini gembar-gembor ingin merdeka,” kata Bagus.

Butuh keahlian khusus dan kesabaran ekstra dalam mengajar di pedalaman. “Kalau pagi kita mengawali hari dengan mengajak bermain, dan kalau siang mereka minta pulang,” kata Azis. Alasannya, ‘pak guru saya lapar. Kita pulang ya.’

Orang tua murid memang masih sangat abai. Mereka, kata Anggi, lebih memilih untuk menyuruh anaknya untuk berburu dan memanggul sagu daripada bersekolah. Pagi pun, anak-anak biasa bersekolah tanpa sarapan. Tak heran jika menjelang siang mereka minta pulang. Di rumah pun, anak-anak tak pernah belajar. “Pagi belajar di sekolah, siang kalau tidak ke hutan, mereka bermain, dan malam lampu tidak ada. Jadi belajar hanya sekolah saja,” kata Anggi.

Daya tangkap yang kurang dan niat berangkat sekolah sedikit juga menjadi kendala. Anak Ubrub bisa saja hadir ke kelas satu minggu, dan seminggunya lagi alpa. Mengajar mereka juga tidak perlu muluk-muluk. Hanya 3 M saja; membaca, menulis, menghitung.

Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Keerom Jayapura, Stenly N. Moningka menyebutkan, Keerom masih kekurangan 183 guru. Kesulitan terbesar pendidikan di sana, kata Stenly, adalah akses transportasi yang sulit. Jalanan ke Web dan Senggi dari Jayapura, sekitar 8-9 perjalanan darat. Jalan berkelok dan lubang di sana-sini. Daerah ini berada di lintasan perbatasan antara Indonesia dan Pupua New Guinea.

“Harusnya kalau pendidikan di sana bagus, bisa menjadi contoh bagi Papua Nugini,” kata Stenly. Secara politis, masyarakat di Keerom adalah pelintas batas antar negara. Mereka dari suku yang sama, dan hanya dilintasi kewarganegaraan. Meski demikian, anak-anak Papua New Guinea banyak yang bersekolah di Keerom. Sekolah yang berada di tempat yang segalanya serba tertinggal. Transportasi amat sulit, listrik tak menyala, dan anak-anak yang masih belajar mengeja. Ini adalah Indonesia, tapi berbeda. []

Hamzah Hasballah

Komentar