mukat mjc
mukat mjc

Dua Jam di Cipinang

Thursday, 24 April 2014 | 01:01 WIB

44006_620

Ilustrasi foto Cipinang. Foto: Tempo.co

MJCnews.com - Lelaki itu tampak bersahaja. Pakaiannya sederhana; perpaduan koko coklat dengan celana kain. Mengenakan peci, dan selalu tersenyum. Wajahnya cerah, ada dua tanda hitam membekas di keningnya. Jenggotnya tipis. Ia menyambut kedatangan saya dengan salam, kemudian memeluk hangat sambil merapatkan kedua pipi.

Pria berumur 51 tahun itu adalah Ainul Bahri Bin Tamani alias Abu Dujana. Veteran perang Afghanistan yang ditangkap Densus 88 di Banyumas pada 9 Juni 2007 silam. Abu Dujana divonis hukuman 15 tahun penjara. Enam setengah tahun telah ia lewati, berpindah dari satu lapas ke lapas lainnya. Saat ini ia berada di balik jeruji Cipinang.

Abu Dujana mempersilakan saya duduk. Ia terlihat tak menaruh curiga. Saat itu, ia ditemani Bhakti Rasna, alias Abu Haikal. “Jadi tahu saya dari mana?” ia membuka tanya . “Antum berasal dari mana?” lanjutnya lagi. Saat itu, pertemuan dilangsungkan di ruangan besuk lapas Cipinang, pada jejeran kursi warna biru yang mulai didatangi pada pembesuk.

Kursi-kursi dari plastik itu berupa rangkaian tiga kursi yang dijadikan satu. Didudukkan berhadap-hadapan pada sebuah meja berukuran satu meter pada ruangan sekitar 50 meter persegi.

“Saya dari Aceh.” Mendengar itu, tiba-tiba ia terlihat lebih antusias. Kontan bertanya seputar syariat Islam. Lalu menyiratkan wajah sedih. Syariat, katanya tidak dijalankan dengan benar, bahkan di bumi Serambi Mekkah sekali pun.

Abu Haikal, merupakan salah seorang tertuduh teroris lainnya. Ia adalah orang yang membawa Dulmatin kembali ke Indonesia. Saat bersama Abu Dujana di lapas, ia mengenakan rompi berwarna loreng kecoklatan. Peci bundar berenda dua, ia kenakan. Mirip pejuang-pejuang perang di tanah Arab. “Silakan antum berdua dengan ustadz,” katanya. Kemudian, lelaki asal Sumatera Barat ini duduk di meja yang lain. Berdua dengan Suryana, pria yang menemani perjalanan saya ke Cipinang.

Abu Dujana mulai banyak berkisah perihal pergerakannya sebelum masuk penjara. Baginya, penegakan Islam menjadi suatu hal yang wajib. “Jihad itu wajib, untuk menegakkan Islam di bumi Allah,” katanya. Ia mengatakan, perjalanan itu merujuk pada apa yang dilakukan Muhammad Saw, dulu. “Nabi naik haji sekali, umrah dua kali, dan memimpin perang secara langsung sebanyak 28 kali.” Karena itu, untuk membawa ajaran Islam, salah satu cara adalah dengan kata perang.

Apalagi, perjuangan islam, kata Abu Dujana sudah lebih maju. Saat ini, di berbagai daerah muncul gejolak-gejolak kecil yang diperankan umat islam, meski mereka berada pada posisi yang masih kalah. “Itu tandanya orang sudah mulai mau berjuang. Kalau dulu hanya dakwah dari mulut, sekarang sudah angkat senjata.” Pelabelan teroris, kata Abu Dujana, adalah label yang salah arah. “Mereka tidak paham makna jihad Fisabilillah.”

Berjihad – ia menyebutnya demikian – merupakan tujuan hidupnya. Tak heran, jika di akhir 1990-an, ia tergabung bersama pejuang mujahidin pembebasan Afghanistan. “Biasanya dua bulan di Afghan, terus balik, dua hari di Pakistan,” kisahnya.

Di Pakistan, tepatnya di Shagara, daerah Pakistan yang berdekatan dengan Afghanistan adalah salah satu tempat berlabuh Abu Dujana. Di tempat itulah ia bersama para mujahidin lainnya berlatih. Tanah di Shagara merupakan tempat kaum ansharin berkumpul. Mereka adalah para pejuang dari berbagai belahan dunia, yang kemudian ‘berjihad’ di Afghanistan.

Abu Dujana kemudian mengeluarkan pulpen dan secarik kertas dari kantung bajunya. Menggambar peta kecil tiga negara. Afgnistan, negara yang bergejolak saat itu ia lukiskan agak besar, di sisi kanan itu, ia menggambar juga peta Pakistan dan India. “Di sini letak Shagara,” katanya, menunjuk pada bagian ujung Pakistan yang berbatasan dengan Afghanistan.

Di Shugara lah, Abu Dujana melihat puluhan bahkan ratusan pengungsi dari Khasmir masuk setiap harinya. Mereka berjalan melintasi ribuan kilo, menapak pegunungan yang kadang licin dengan bongkahan es. “Sebagian mati di jalan, dan sebagian lagi selamat sampai di Shagara. Meski kaki mereka terkelupas bahkan membusuk,” katanya. Kashmir, sebuah negara kecil mayoritas Islam yang kedaulatannya tidak diakui. Di Shagara mereka berlatih, dan kemudian pulang berperang di negaranya.

Saat sedang bercerita, seorang petugas datang menyampari. Ia mengingatkan Ainul Bahri, ada acara di atas, lantai dua lapas Cipinang. Abu Dujana melirik jam hitam di lengan kanannya. Pukul sepuluh pagi. Sudah setengah jam ia menemui saya. “Kan tidak ada saya tidak apa-apa. Atau nanti saya naik ya,” katanya memberi jawaban.

Bersama 33 tahanan tertuduh teroris lainnya, Abu Dujana ditahan di blok khusus. “Khusus, kita masak sendiri, ada musallanya juga,” ujarnya tersenyum. Blok tersebut berada paling dekat dengan ruangan besuk. Ia menggambarkan, ruangan itu tidak terlalu sempit. Bahkan, masih ada lapangan bulutangkis dan sepetak kecil ruang kosong yang dijadikan musalla. Letaknya berada di tengah masing-masing sel. Di ruangan itulah delapan sel dihuni oleh 34 orang napi tertuduh teroris. “Masing-masing dihuni sekitar lima orang aktivis jihad,” kata Abu Dujana.

Beberapa pembesuk lainnya kemudian tiba. Memberi salam dan memeluk Abu Dujana serta Abu Haikal. Mereka membawa beberapa plastik besar bahan makanan untuk sepekan ini. Juga ada sekantong buah kelengkeng yang siang itu ikut dihidangkan di depan Abu Dujana. “Saya tak tahu apa itu. Sudah ada yang masak, saya tinggal makan nantinya,” Abu Haikal tersenyum.

Para tahanan tertuduh teroris ini memang memasak sendiri selama di lapas. Alasannya, kata Abu Dujana, makanan di lapas, sangat tidak layak. Nasi keras, dan kadang menimbulkan bau tak sedap. Sayuran kangkung pun, dicuci tidak bersih. “Cuma itu, tidak ada alasan lain. Ketika kita minta masak sendiri, pihak lapas tidak mempermasalahkannya,” kata Abu Dujana.

Di penjara, para narapidana sebenarnya bebas memilih makan apa. Tergantung ia mempunyai biaya. Tak jarang, kata Abu Dujana, para napi memesan makanan dari luar atau di kantin lapas. Mereka adalah orang-orang berduit. Bahkan sudah menjadi rahasia umum di penjara. Di dalam satu blok yang dihuni oleh napi yang terjerat kasus korupsi dan para narapidana asing yang terlibat narkoba, mereka selalu makan dengan menu lebih istimewa. “Itu juga blok khusus. Lebih istimewa lagi. Satu kamar kadang cuma dua orang. Napi lain saya dengar bisa jadi ajudan mereka,” katanya tersenyum. Makanan lapas kadang hanya dikomsumsi mereka kalangan tak berduit. “Kasihan mereka.”

Sehari-hari, Abu Dujana beraktifitas sebagai tenaga pengajar. Ia mengajari bahasa arab di lapas. Pihaknya juga menfasilitasi pengajian. Biasanya dilaksanakan di blok mereka sendiri. Kecuali bahasa arab yang juga diadakan di musalla lapas.

Jam telah menunjukkan pukul 11.30.WIB, saat petugas mengumumkan waktu membesuk telah habis. Dua jam telah berlalu. Satu per satu pengunjung meninggalkan ruangan itu. Para napi kembali masuk ke dalam. Pertemuan di tempat yang oleh Abu Dujana diibaratkan sebagai negara dalam sebuah kotak akan berakhir. Dan ia, lelaki yang masih harus menjalani lebih dari delepan tahun lagi di ‘negara’ tersebut.

Lantas, paska penjara, apa Abu Dujana akan kembali ‘berjihad’? “Hanya orang-orang bodoh yang menghentikan jihadnya,” katanya yakin. Rencananya kemana? “Wallahua’lam.” []

MH | MJCnews.com

Komentar