mukat mjc
mukat mjc

Jejak tak Terlacak

Saturday, 26 April 2014 | 19:40 WIB

IMG_2015

Salah satu sisi pulau Nusakambangan yang kerap dijadikan tempat pelarian tahanan. Foto: MH/MJCnews.com

MJCnews.com – Banyaknya dermaga illegal dipakai sebagai jalur narapidana Nusakambangan melarikan diri. Reporter MJCnews.com mengikuti jalur penyeberangan dari Teluk Penyu Cilacap, ke Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut.

Di sebuah dermaga bekas itu, dua pos berdiri. Bentuknya tak lagi utuh. Dinding mulai roboh. Belukar menutupinya. Dari sanalah, November tahun lalu, Ahmad Yusuf, narapidana LP Batu Nusakambangan melarikan diri. Menyamar sebagai pemancing, ia menyeberangi pulau dengan perahu nelayan. Jejaknya hilang. Tahanan yang telah menjalani masa hukuman 12 dari 20 tahun penjara itu tak ditemukan hingga kini. Pos itu dulunya digunakan sebagai tempat penyeberangan ke Nusakambangan, sebelum pos Sodong difungsikan.

Sepekan menjelang, dua narapidana lainnya atas nama Harun bin Ajiz dan Suhardi bin Abdul Hamid, juga mencoba kabur dari LP Batu. Nahas, percobaan itu gagal. Padahal mereka telah berada di luar penjara, setelah mencongkel teralis besi dan menjebol tembok jendela dengan pisau cutter. Dua napi ini tidak bisa berenang. Mereka ditangkap saat akan mencari tumpangan kapal di areal pabrik semen. Harun merupakan tahanan hukuman mati, dan Suhardi dihukum penjara seumur hidup.

Pelarian tiga narapidana dari Nusakambangan itu dilakukan melalui jalur-jalur illegal yang banyak terdapat dari ujung timur hingga ujung barat pulau. Di sisi-sisi pulau pun, perahu nelayan dapat dengan bebas berlabuh. Dari sanalah narapidana berpeluang untuk kabur dari Nusakambangan.

Ke ujung barat pulau Nusakambangan dapat dituju dari Pantai Teluk Penyu, Cilacap. Di sana, belasan perahu nelayan dapat disewa untuk mengelilingi pulau. Karebet, salah satu nahkoda yang akan membawa keliling, menyusuri dermaga-dermaga illegal di sekeliling Nusakambangan.

Lautan terlihat tenang tak berombak. Menyisir dari pinggiran pulau, terlihat kapal-kapal besar melempar jangkar. Ada kapal miliknya pertamina, kapal pengangkut batu bara, perusahaan tepung, semen, hingga kapal bongkar muat minyak mentah. Iya, Cilacap adalah kota industri. Menyusur di pinggiran Pulau Nusakambangan, kesan angker tidak terlihat.

Jarak pulau dengan daratan tak terlalu jauh. Tak sampai satu kilometer, atau lima menit perjalanan dengan boat. Namun, jangan coba-coba untuk meyeberang. Arus di sana, kata Pras Selasih, salah satu pemandu wisata, berputar dari dua arah yang berlawanan. Butuh keahlian berenang untuk bisa sampai ke daratan. Itu pun jika tidak tertangkap.

Lautan keruh. Bekas erupsi gunung Kelud membuatnya bertambah kotor. Karebet memelankan laju boat. Ia menunjuk lurus ke arah barat. Sebuah perkampungan di barat pulau Nusakambangan yang menjadi tujuan perjalanan Senin siang itu. Desa Ujung Alang di Kecamatan Kampung Laut. Dua jam dari Cilacap.

Satu jam perjalanan, lapas Batu mulai tampak. Samar di antara pepohonan yang padat. Dari beberapa celah bakau, Lapas Klas I itu tampak menonjol. Bentuknya memanjang. Ubin bangunan berwarna orange. Kubah mesjid terlihat jelas. Sebuah tiang pemancar menusuk tinggi. Tak jauh dari sana, tepatnya di bibir pantai, terdapat sebuah dermaga. Tak terawat dan mulai ditumbuhi jamur. Sebuah boat kecil terparkir. Pemiliknya tidak terlihat, pergi entah kemana. “Dari situ napi pernah kabur,” kata Karebet.

Karebet pernah memasuki Lapas Batu, sekira tahun 2010 silam. Saat itu, ia membesuk tetangganya yang ditahan karena tuduhan pelecehan atas anak di bawah umur. Pemerikasaan saat memasuki lapas, kata Karebet, tidak terlalu ketat. Hanya di Wijayapura Cilacap, tempat penyeberangan ke Nusakambangan, ia diperiksa total. Sementara di Sodong dan di pintu masuk lapas, ia hanya diperiksa sebatas formal. Penjaga hanya mengecek barang bawaan dan meraba kantung pakaiannya.

“Tempat membesuk di dalam kayak kantin,” kata Karebet. “Kita bisa bebas bicara sama tahanan tanpa dijaga oleh petugas,” katanya.

Sebagai pemandu wisata yang tergabung dalam Paguyuban Wisata, Karebet bisa masuk ke pulau Nusakambangan. Sebatas membawa tamu mengunjung melihat lapas dari luar. “Masuk ke dalam yang tidak boleh,” kata Karebet. Ia bilang, anggota paguyuban mempunyai izin masuk antara jam jam 08.00 hingga jam 12.00 siang. Proses masuk ke pualau tidak terlalu sulit, hanya sebatas melapor dan meninggalkan kartu identitas di pos pemiksaan Sodong.

Perjalanan dari belakang Lapas Batu dilanjutkan. Kemudian, kami melewati Lapas Narkotika. Ukurannya terlihat lebih besar dari LP Batu. Bentuknya juga memanjang. Di atas sebuah bukit yang tinggi, tampak sebuah pos penjagaan. Perahu kemudian berkelok ke arah utara, meninggalkan lapas yang tampak semakin samar.

“Kita akan melewati Segara Arakan,” kata Karebet. Tempat yang dimasud Karebet itu adalah lautan berbentuk sungai yang diapit hutan bakau. Arusnya tenang tak berombak. Boat-boat kecil nelayan tertambat di sana. Mereka memancing, mencari kepiting dan kerang laut. Beberapa lintasan serupa lorong jalan membelah di antara pohon bakau. Dari sana, kata Karebet, bisa langsung merapat ke pulau Nusakambangan.

Lintasan-lintasan itu, kata Karebet, merupakan bagian dari tempat yang disulap banyak narapidana untuk mencoba kabur. Ia mengakui, lorong itu memang buntu. Namun, merupakan lintasan yang langsung tembus ke Nusakambangan, meski harus terlebih dahulu melintasi hutan bakau.

“Banyak tempat kayak gini mas,” kata Karebet. Benar saja, sepanjang perjalanan, lorong-lorong itu terlihat jelas. Perahu nelayan keluar masuk dari sana. Petugas, katanya, sesekali melakukan patroli.

Perahu Kurnia Ilahi merapat ke dermaga kecil di Desa Ujung Alang. Sebuah kampung nelayan yang hanya terpisah selemparan batu dari pulau Nusakambangan. Sementara Desa Ujung Alang Selatan, berada di Nusakambangan.

Warno, warga Ujung Alang mengatakan, dahulu, di dekat desa itu terdapat penjara Karang Anyar. Sipir beserta narapidana kerap bertandang ke Ujung Alang, sekedar minum kopi. Tahun 1986, penjara itu ditutup, dan jalan menuju ke sana dipenuhi belukar. Saat ini, di Selok Jeruk, dekat dengan penjara itu mulai dihidupkan wisata bahari yang dikelola Paguyuban Wisata dan Pemerintah Cilacap. Pasir putih dan gelombang tenang membuat banyak wisatawan kepicut ke sana. Termasuk dari Pengandaran, Jawa Barat. Lokasinya tak jauh dari Kabupaten tetangga itu.

Iswanto, bekas sipir di Karang Anyar mengatakan, dulunya tak sembarangan orang bisa melintasi kawasan pulau. Di pedesaan sekarang pun, dulunya hanya puluhan orang saja yang menetap. Para sipir rutin melakukan patroli dan menjaga kawasan hutan bakau tersebut. Ada dua pos di sana. Sipir selalu disiagakan di sana. Iswanto pernah berjaga empat tahun di sana“Sekarang aja sudah tidak dijaga. Masyarakat juga membuka lahan di pulau, dan orang bebas masuk,” kata Iswanto yang kini bertugas di Lapas Pasir Putih.

Agus, pensiunan sipir Lapas Batu mengatakan, hingga akhir tahun 1980-an, perahu nelayan pun tidak boleh mendekati pulau. “Kalau mendekat 50 meter ditembaki peringatan. Kalau tetap mendekat bakal ditembak,” katanya. Para sipir pun, dulunya harus menetap di pulau Nusakambangan. Namun kini, sipir bebas keluar-masuk, bahkan tinggal di Cilacap.

Warno, warga Ujung Alang menyebutkan, setidaknya ada tiga dermaga di tiga dari empat desa di Kecamatan Kampung Laut, yaitu dermaga Ujung Alang, Klaces, Panikel dan Ujung Galak. Sementara banyak tempat lain yang juga bisa dijadikan persinggahan perahu.

Kepala Lapas Pasir Putih, Tejo Harwanto mengatakan, laporan kepolisian yang diterima pihaknya, saat ini jalur illegal ke pulau Nusakambangan terus bertambah. “Dulu ada 28, sekarang 33 titik jalur,” kata Tejo. Terus bertambahnya jalur illegal itu karena kondisi pulau yang juga dijadikan sebagai tempat wisata Pemerintah Kabupaten Cilacap. Masyarakat juga bercocok tanam dan menetap di pulau yang seharusnya steril tersebut. “Harusnya pulau ini khusus untuk penjara,” kata Tejo.

Hayunianto, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemengkumham Jawa Tengah mengatakan, satgas keamanan dan ketertiban Nusakambangan rutin melakukan patroli di jalur yang sudah terdeteksi itu. Dua minggu sekali mereka rutin menyisir jalur-jalur itu, kata Hayunianto.

Kurangnya pengawasan dimulai sejak beberapa lapas di nusakambangan ditutup dan pembangunan lapas baru terfokus di tengah pulau. Dulunya, di hampir semua titik dari ujung barat ke ujung timur pulau, terdapat penjara. Otomatis semua sisi pulau terkontrol. Namun kini, tujuh penjara yang tersisa (tiga dibangun belakangan) berada di tengah pulau bagian barat.

Tujuh penjara itu adalah Lapas Batu, Lapas Terbuka, Lapas Narkotika, Lapas Besi, Lapas Kembang Kuning, Lapas Permisan, dan Lapas Pasir Putih. []

MH | MJCnews.com

Komentar