mukat mjc
mukat mjc

Kontroversi Valentine Days

Monday, 18 February 2013 | 08:00 WIB

valentine day

Foto.Antara

PERAYAAN valentine bagai sebuah bumerang. Di Aceh, ramai-ramai orang menolak, keidentikan dengan perayaan agama Nasrani menjadi Alasan. Ulama bahkan mengharamkan masyarakat Aceh merayakan kasih sayang itu. Namun demikian, tidak bagi beberapa muda-mudi. Bagi mereka, valentine menjadi hari spesial, sayang untuk dilewatkan.

Di beberapa negara Eropa, perayaan valentine sangat kentara. Di Turki, penjual bunga untung besar. Pusat perbelanjaan memberi diskon besar-besaran. Sevgililer Gününe Indirim – diskon untuk hari valentine. Begitu tulisan yang terpampang pada sebuah mall di kota Gaziantep, Turki. Tentunya, para pasangan bagai berpesta pada 14 Februari kemarin.

Sedangkan di Amerika dilaporkan, berbagai cara dilakukan pasangan untuk mengungkapkan cinta di hari bahagia itu. Sama halnya dengan di Torino, Italia, yang sedang melangsungkan olimpiade musim dingin. “Hari Kasih Sayang adalah hari bagi semua yang memiliki orang tersayang,” kata seorang pemilik toko yang mendekor kedainya dengan pernak-pernik berwarna merah, seperti dilansir VOA Indonesia. Amerika perayaan Valentine ditandai dengan saling bertukar kartu ucapan untuk orang tersayang

Jauh di Jepang, perempuan-perempuan mengirimkan coklat kepada pria yang dicintai. Di negari sakura ini, bahkan orang yang dihormati pun mendapat kiriman coklat. Bagi mereka, valentine menjadi ajang berbagi, saat yang tepat untuk saling mengasihi.

Sore hari yang menyenangkan di Turki, pada sebuah toko bunga yang telah berdiri selama 30 tahun. Ökeş, seorang lelaki muda meminta dipaketkan sebuah boneka beruang putih dengan parcel merah, pada seorang perempuan tua, penjual pada toko di Kota Gaziantep itu. Di dalam paket pesanannya juga diselipkan mawar merah dan cincin. Menurut Ökeş, valentine adalah hari yang sangat special baginya, karena hari itu, 14 Februari 2013, lelaki muda itu ingin membelikan kado spesial untuk kekasihnya.

“Hemen vereceğim, bundan sonra hemen onunla göruşeceğim – aku akan langsung memberikannya, setelah dari sini, Aku akan langsung menemui dia,” kata Ökeş kepada MJCnews.com, sore itu. Baginya, melewatkan setiap hari valentine dengan orang terkasih merupakan suatu hal yang spesial.

Valentine bagi orang seperti Ökeş memang suatu hal yang selalu ditunggu. Sama halnya dengan para penjual bunga, coklat, ataupun boneka. Di Gaziantep, sebuah toko bunga yang memasang balon love merah besar juga menarik untuk disinggahi. Toko itu dipenuhi para pembeli. Pemiliknya mengaku bunganya laris sampai 400 paket jika hari valentine tiba. Pemesan bunga pada toko miliknya mencapai 100 orang lebih.

“Hari hasih sayang memberikan keuntungan tersendiri bagi saya,” ungkap pemilik toko. Di Turki, bunga sering menjadi senjata ampuh para lelaki. Maka tak heran jika valentine days, penjual bunga diguyur untung yang sangat besar. Ia menceritakan, bunga yang paling banyak laku dan dicari-cari adalah mawar merah. “Biasanya pembeli lebih banyak yang membeli setangkai, yang harganya berkisar 5 sampai 7 Turkish Lira. Mungkin karena terlihat lebih simpel.”

Pada sebuah mall terbesar di Gaziantep, pasangan muda-mudi juga terlihat menggandeng bunga dan pasangan. Menjelang pukul delapan malam, pada sebuah tempat khusus yang menjual coklat valentine. Reporter MJCnews.com berbincang-bincang dengan Ya Samin, seorang gadis cantik penjual coklat. Menurutnya, bunga lebih diminati di turki daripada coklat. “Tadi ada sekitar 30 orang yang membeli paket coklat, kata Ya Samin merincikan langganannya dari pagi tadi.

Tak hanya pusat pembelanjaan dan gerai bunga, penyambutan valentine atau sevgili günü dalam bahasa Turki, terlihat di beberapa tempat. Stasiun kereta listrik bahkan memasang beberapa poster akan hari yang berlambang hati tersebut. Di beberapa sudut jalan dan universitas penuh dengan ‘bau-bau’ merah.

Di Turki, valentine tidak hanya berlaku bagi muda-mudi. Sebagian yang sudah menikah pun turut merayakannya. Menurut cerita ibu tukang masak di sebuah asrama, beliau pernah beberapa kali mendapat hadiah valentine dari suaminya.

Seorang laki-laki menuturkan, ia membeli bunga untuk kekasihnya. “Saya baru menikah,” katanya. Hari valentine, bagi sebagian orang di Turki memang dimanfaatkan untuk mengikat janji suci mereka, karena merupakan hari kasih sayang yang spesial.

Jepang, sekitar tahun 1958. Mary Chocolate, sebuah perusahaan coklat mempromosikan tentang valentine kepada para penjual coklat. Awalnya, mereka tak tahu menahu, apa itu valentine. Perusahaan ini memberikan ide tentang bagaimana jika perempuan yang memberikan coklat kepada laki-laki. Budaya Jepang menganggap derajat lelaki lebih tinggi dari perempuan, dan menjadi salah satu alasan agar kaum hawa membuat coklat dan memberinya kepada kaum adam. Selain itu, rasa malu yang sudah menjadi salah satu ciri khas orang Jepang menjadi alasan lainnya untuk perempuan mengatakan rasa suka kepada lelaki.

“Hari valentine telah membuat sebagian kaum hawa sibuk membuat kue coklat untuk diberikan kepada teman pria yang mereka sukai,” ujar Mikial Maulita menceritakan gambaran di negeri sakura kepada MJCnews.com, Jumat, 15 Februari kemarin.

Ada dua macam jenis coklat yang diberikan perempuan kepada laki-laki, yaitu Honmei Choco dan Giri Choco. Honmei Choco adalah coklat mahal yang hanya diberikan kepada lelaki yang sangat disukai, baik untuk sang pacar ataupun untuk orang yang dikagumi. Biasanya ada juga pesan singkat yang tertera dalam bungkusan Honmei Choco, berbeda dengan Giri Choco yang lebih simpel dan murah.

Bagi laki-laki yang menerima coklat dari teman wanitanya di hari valentine harus bersiap-siap untuk memberikan balasan satu bulan setelahnya. Di tanggal 14 Maret biasa laki-laki akan mempersiapkan kado balasan pada hari yang di Jepang disebut dengan “White Day” atau Hari Putih. Balasan yang diberikan tidak harus coklat, tapi juga bisa seperti permen ataupun sekedar biskuit. Sebenarnya, ada juga laki-laki yang memberikan balasan berbentuk benda seperti sapu tangan.

Di Negeri Samurai, sebenarnya, coklat diberikan bukan hanya untuk teman pria yang disukai tapi juga kepada kaum adam yang mereka segani, seperti siswa terhadap guru, dari anak untuk ayah, di kantor dari karyawan untuk sang direktur. Mereka akan menjadi target diberikan hadiah berupa coklat Giri (kewajiban) Choco (cokelat). Mereka bagian dari orang-orang yang disegani.

Di Banda Aceh, pada sebuah kota yang menerapkan syariat islam. Ulama, sebagai tokoh panutan melarang perayaan valentine. MPU bahkan secara tegas mengharamkan perayaan valentine oleh muda-mudi Aceh.

“Kita setiap tahun mengeluarkan larang agar umat Islam di Aceh tidak merayakan hari valentine. Sebab dalam kajian keislaman, kasih sayang model valentine tidak mencerminkan kasih sayang dalam Islam, jadi kita larang,” kata Tengku Faisal Ali, Sekretaris Jenderal Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA).

Azas pelarangan tersebut, tegas Faisal, berkaitan dengan sebab datangnya valentine yang dikaji dari sisi agama Islam, merupakan sebuah peristiwa yang kurang baik. “Atas dasar itu ulama Aceh melarang anak-anak muda Aceh untuk merayakan valentine. Begitu juga, kita melarang mereka membeli simbol-simbol yang berhubungan dengan valentine, karena tidak sejalan dengan Islam,” kata Faisal

“Kalau mesti rayakan kasih sayang, bukan model hari kasih sayang valentine. Berikan kasih sayang ke orang tua dan keluarga, tidak perlu meniru kasih sayang model valentine.”

Meski ulama berpendapat demikian, Reza Idria, salah seorang aktivis budaya di Aceh memberi pandangan, bahwa pada dasarnya, valentine bukan merupakan perayaan agama, seperti merayakan hari keagamaan (Natal dan lainnya). “Untuk cari dasar hukum pelarangan Valentine tidak bisa disamakan dengan peringatan kegamaan,” tegas Reza.

“Ini pekerjaan berulang tiap tahun. Dan MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama/MUI) setiap tahun melarang anak muda Aceh merayakan Valentine. Valentine kan sudah sangat menghegemoni anak-anak muda,” tambah alumnus University Laiden Belanda ini.

Reza menilai, sah-sah saja anak muda Aceh merayakan valentine, selama tidak melanggar dengan norma-norma agama. “ Jadi, ambil sisi positifnya saja dari valentine ini. Anak-anak muda merayakan valentine karena mereka meniru kultur yang menurut mereka baik.”

Namun tengoklah pada tempat yang menjajakan coklat, jajanan khas pada hari valentine di sebuah sudut kota di Banda Aceh. Kala seorang perempuan dengan cekatan memencet keluar adonan coklat ke dalam sebuah wadah kecil. Ia membentuk love pada coklat bikinannya.

“Permintaan coklat banyak di hari valentine,” ujar Ismaira, salah satu produsen rumahan kepada MJCnews. Ismaira mengaku, ia tak hendak merayakan hari kasih sayang itu, namun usaha yang telah ia bangun membuat ia memang harus memenuhi permintaan konsumen. Sejak sepekan menjelang valentine, perempuan itu sudah kebanjiran orderan.

Para pegawai di rumah Ismaira terlihat sibuk, terus bekerja. Lonjakan permintaan membuat ia harus menambah jam kerja, dari biasa delapan menjadi 12 jam per hari. Namun tengoklah hasil. Per unit, Ismaira bisa menjual seharga Rp 3.000 hingga Rp140.000 per coklat.

Hari valentine memang hari yang istimewa, para pasangan sengaja mememesan bentuk yang indah, untuk diberikan kepada orang terkasihnya. Sebuah ungkapan kasih sayang melalui coklat.

Geoffrey Chaucer, seorang sastrawan besar abad ke-14. Ia percaya, 14 Februari merupakan hari, dimana burung-burung terbang bebas, mencari pasangan. Di tanggal itu, dimulai musim kawin. Kepercayaan tersebut kemudian membuat ia melahirkan sebuah cerita. Ia menulis Parlement of Foules, atau Percakapan Burung-Burung. Dalam cerita tersebut, tersemat sebuah kalimat; For this was sent on Seynt Valentyne’s day – Bahwa inilah dikirim pada hari Santo Valentinus. Whan every foul cometh ther to choose his mate – Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya.

Konon, lagenda Santo Valentinus mulai berembus sejak saat itu. Tulisan Percakapan Burung-Burung terus membumi, bahkan hingga kini.

Roma, pada abad ketiga, zaman dimana Kaisar Claudius berkuasa. Claudius dikenal kejam. Masa itu, ia melarang pernikahan. Pria dewasa diwajibkan ikut militer. Valentine, seorang pendeta yang hidup di abad itu jelas-jelas menentang. Baginya, kebijakan raja sungguh sebuah keputusan yang tak masuk akal.

Sebagai pendeta, valentine tetap menikahkan pasangan muda, secara diam-diam. Ia tak ingin raja tau. “St. Valentine sama sekali tidak menggubris peringatan tersebut dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi oleh cahaya lilin,” tulis sebuah artikel yang tayang di laman Kompas Forum.

Rahasia tersebut tak berlangsung lama. Kaisar mulai mengendus sebuah pengkhianatan. Hingga suatu malam, valentine tertangkap tangan tengah memberkati sepasang kekasih yang sedang melangsungkan pernikahan. Claudius murka. Valentine kemudian dijebloskan ke penjara. Ia divonis hukuman mati.

Sejak saat itu, orang mulai percaya akan kekuatan cinta. Mulai ramai orang yang menitikkan air mata. Bunga dan pesan dukungan dilemparkan pada jendela penjara, jeruji dimana valentine ditahan: menanti hukuman pancung.

Alkisah, malam tanggal 14 Februari, valentine menulis surat kepada putri opsir penjara, salah satu orang yang percaya akan cinta kasih itu. Pesan tersebut kemudian terkenal dengan kisah cinta dari valentine.

Meskipun tak ada literatur lengkap yang menuliskan isi dari surat tersebut, toh hingga kini, ramai-ramai orang merayakan 14 Februari sebagai hari valentine. Hari kasih sayang. Hari di mana pasangan bercinta kasih. Hari di mana bunga dan coklat menjadi lambang cinta. []


Wardatul Ula (Turki), Mikial Maulita (Jepang), Nandar, Hamzah Hasballah, Putra Mardira (Banda Aceh)

Baca juga: Si Manis di Hari Kasih Sayang
Coklat valentine day
KAMMI Pinta Ganti Valentine Dengan Gerakan Menutup Aurat

Komentar