mukat mjc
mukat mjc

Dakwah Maulid di Riwat Dimeriahkan Layar Tancap

Friday, 15 March 2013 | 01:20 WIB

Foto_Nat Riwat

Suasana dakwah maulid di Riwat Balee Gantung, Geulumpang Baroe, Pidie. [Foto: Nat Riwat]

MJCnews, Pidie – Masyarakat Riwat Balee Gantung, Kecematan Geulumpang Baro, Pidie memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw dengan menyediakan fasilitas dua layar tancap yang berlangsung Rabu (13/3) malam di desa setempat.

Panitia menghadirkan mubaligh yang menjadi penceramah tunggal Teungku Abdul Aziz dari Banda Aceh yang juga ketua Majelis Ulama Nanggroe Aceh (MUNA). Selain itu juga dimeriahkan dengan kasidah-kasidah yang dibawakan oleh putera-putera Riwat dan Geulumpang Baro.

Ketua Pemuda Riwat Teuku Raja Faisal mengatakan kegiatan memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad selalu dimeriahkan dengan ceramah maulid yang diharapkan untuk mengingatkan kepada umat Islam sejarah kelahiran Rasul.

“Setiap tahun kami adakan ceramah maulid, dan sudah tiga tahun belakangan ini panitia selalu menyediakan proyektor untuk layar tancap, agar semua pengunjung dapat menyaksikan teungku penceramah secara detail,” sebutnya.

Menurutnya, setiap ceramah maulid yang dilaksanakan di kampung masih meriah dan banyak pengunjungnya. “Pengunjung yang hadir sekitar 700 orang baik dari kemukiman Riwat maupun dari kemukiman lain.”

Sementara Abdul Aziz dalam ceramahnya menyampaikan empat hal yang harus dimiliki oleh setiap tokoh masyarakat di Aceh. Di antaranya; ilmu tauhid, ilmu fiqh, ilmu tasawuf, dan ilmu mantiq.

“Bagi generasi muda Aceh harus paham terhadap sejarah kelahiran Nabi Muhammad, serta tahu bagaimana perjuangan rasul dalam membawakan ajaran Islam ke dunia ini, sampai sejarah masuknya Islam ke Aceh,” sebut Teungku Abdul.

Ia menyebutkan bahwa Aceh merupakan daerah terpilih, karena sejak zaman sahabat Rasul telah disebutkan kata “Atjhiy”, sehingga Aceh digelari Serambi Mekkah.

Lebih lanjut dia mengharapkan agar masyarakat Aceh agar terus menjaga ajaran Islam ini dengan baik, jangan sampai masuk aliran-aliran sesat, seperti selama ini ditemukan dalam masyarakat.

“Aliran sesat sangat berbahaya, tapi yang lebih berbahaya lagi adalah sesat tanpa aliran, bahkan mungkin sudah sampai di rumah kita sendiri, diharapkan masyarakat harus peka dengan pergaulan anak-anak selama ini,” demikian Abdul Aziz. []

Laporan: Nat Riwat

Komentar