mukat mjc
mukat mjc

Mengenal Sanger

Wednesday, 4 November 2015 | 10:17 WIB

Jpeg

Sanger Arabica. [Foto: Husaini]

JIKA berkunjung ke Aceh, jangan lupa mencoba sanger. Minuman kopi campur sedikit susu dan gula ini memiliki rasa yang unik. Sanger merupakan minuman paling favorit masyarakat Aceh selain kopi hitam.

Di provinsi berjuluk Serambi Mekkah ini, sanger mudah dijumpai di warung kopi. Di Kota Banda Aceh sendiri nyaris tak ada warung kopi dan kafe yang tak menyediakan minuman unik ini. Sanger makin nikmat jika diminum sambil mengudap timphan, pulot, adee atau kuliner khas Aceh lainnya.

Secara umum ada dua jenis sanger; yakni, sanger rubusta yang dibuat dari kopi saring rubusta, dan sanger arabika. Harga sanger arabika sedikit lebih mahal dibanding robusta. Rasanya sama-sama enak dan khas, tak terlalu manis juga tidak pahit.

Sanger diracik berbahan sedikit susu kental manis dan gula, kemudian diseduh kopi hitam saring. Permukaannya berbuih, warnanya sedikit kecoklatan. Sanger sering disebut juga dengan capucino khas Aceh.

Sejarah Sanger
Kenapa disebut sanger? Menurut Adi Warsidi, pecinta kopi dan sanger di Banda Aceh, istilah sanger mulanya dipopulerkan oleh mahasiswa. “Istilah sanger pertama muncul antara 1996 dan 1997, di sebuah warung kopi kawasan Ulee Kareng,” katanya saat berbincang dengan Okezone, Sabtu, 31 Oktober 2015.

Adi menuturkan saat itu krisis moneter sedang melanda Indonesia. Di sudut Ulee Kareng, pinggiran Kota Banda Aceh, ada sebuah warung kopi berkonstruksi kayu saat itu sering dijadikan tempat nongkrong atau berembuk aktivis mahasiswa.

“Bahkan kalau sudah larut malam mahasiswa sering tidur di situ,” ujar Adi mengenang masa-masa jadi mahasiswa dulu.

Mahasiswa yang tak kuat minum kopi hitam sering memesan kopi susu. Namun karena harga barang naik akibat dampak krisis, kopi susu juga sulit dijangkau oleh kantong mahasiswa.

Akhirnya mereka bernegosiasi dengan pemilik warung, meminta diracik kopi dengan mengurangi takaran susu, kemudian ditambah sedikit gula. Kesepakatan atas dasar saling pengertian atau sama-sama ngerti ini disingkat dengan ‘sanger’.

Lama kelamaan ketika mahasiswa memesan sanger pemilik warung sudah mengerti, tak harus bertanya lagi. “Langsung menghidang kopi sedikit susu dan gula. Akhirnya sanger pun makin popular,” tutur Adi yang juga seorang jurnalis.

Versi lain menyebutkan istilah sanger berasal dari “sange” atau kata yang merujuk pada rasa kopi dan susu. Kata ini juga popular di 90-an.

Terlepas dari dua versi kemunculannya, sanger kini jadi salah satu minuman paling diminati di Aceh. Sekali waktu, penyani Marcello Tahito alias Ello saat konser di Banda Aceh pada 2011, sempat menyeruput sanger di sebuah warung kopi.

“Habis minum sanger semalam suntuk gue melek. Tapi enak banget, gue suka,” tukas Ello.

Sejak 2013, sekelompok anak muda di Banda Aceh telah mencetuskan Hari Sanger International atau Sanger Day pada 12 Oktober.

Pencetusnya adalah Fahmi Yunis, seorang pekerja kemanusian yang juga Dosen Universitas Islam Negeri(UIN) Ar Raniry, Banda Aceh. Mula tercetusnya Sanger Day berawal dari kicauan Fahmi di media sosial twitter pada 11 Oktober 2013.

Melalui akun pribadinya @FahmiYunus melemparkan opini tentang pentingnya merayakan Hari Sanger. Ia berkisah tentang sejarah keunikan lahirnya istilah sanger.

“Aceh ini banyak memiliki kuliner yang khas, enak dan rasanya universal, salah satunya sanger. Sanger ini sekarang bukan hanya disukai oleh orang Aceh, tapi juga disukai sama orang luar. Jadi ini menjadi salah satu ikon kuliner Aceh. Kalau Italia punya capucino, Aceh punya sanger,” ujarnya pada Okezone.

Kicauan Fahmi kala itu langsung direspon komunitasnetizen @IloveAceh. Melalui diskusi di lini masa, akhirnya disepakati perayaan #SangerDay pada 12 Oktober.

Tahun pertama Hari Sanger dirayakan di twitter. Ribuan pemilik akun mengunggah foto selfi dengan sanger dan menulis pendapatnya tentang minuman khas Aceh ini.

Tahun kedua pada 12 Oktober 2014, perayaannya lebih meriah. Sejumlah anak muda memperingati Sanger Day di warung kopi Solong Mini, Banda Aceh dengan aksi minum sanger bersama dan penampilan hiburan serta testimoni tentang sanger.

Antusiasme anak-anak muda dalam memunculkan Hari Sanger International direspon positif Pemerintah Kota Banda Aceh. Dalam ajang Festival Kopi Banda Aceh 2014 lalu, Wali Kota Illiza Saaduddin Djamal langsung mengurus hak paten sanger sebagai minuman khas Aceh. Langkah ini dilakukan agar tak ada pihak yang mengklaim hak paten sanger.

Tahun ini warga Aceh kembali merayakan puncak Hari Sanger Dunia di pelataran Pasar Atjeh, Banda Aceh. Kegiatan diinisiasi Komunitas I Love Aceh ini digelar Sabtu malam, 31 Oktober 2015.

Irwanti, penanggung jawab acara mengatakan, panitia akan menyediakan sanger dan timphan secara gratis kepada 100 pengunjung, disamping menyuguhkan berbagai aksi hiburan dengan menghadirkan penyanyi Tereza & Friends dan Amoba Band.

Menurutnya kegiatan akan di-setting dengan penuh nuansa kearifan lokal yakni pengunjung mengenakan kain sarung dan menikmati sanger secara lesehan.

“International Sanger Day tahun ini mengangkat tema “Sanger ban sigom donya”, selain konsep ala street food yang kita tawarkan secara lesehan bagi pengunjung nantinya penikmat sanger juga akan diajak bincang-bincang terkait perkembangan minuman khas Aceh yang diharapkan menjadi ikon menarik sebagai bentuk promosi dan daya tarik wisata di Aceh,” sebut Irwanti.[]

Sumber: Okezone oleh Salman Mardira

Komentar