mukat mjc
mukat mjc

UIN Ar-Raniry Kukuhkan Dua Guru Besar

Friday, 14 August 2015 | 15:59 WIB

NATUIN_6355

Prosesi pengukuhan dua guru besar oleh Rektor UIN Ar-Raniry, Kamis 13 Agustus 2015. [Nat Riwat]

Banda Aceh, MJCnews — Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh kembali mengukuhkan dua guru besar di Lingkungan kampus yang berbasis islam ini. Pengukuhan dua guru besar ini dilaksanakan dalam rapat senat tebuka yang dipimpin langsung oleh Rektor Prof. Farid Wajdi Ibrahim, Kamis (13/8/2015) di Auditorium Ali Hasjmy.

Rektor Farid Wajdi dalam arahannya menyampaikan bahwa dalam meraih sebuah keberhasilan tidak ada yang diperoleh dengan instan atau percuma, tapi setiap keberhasilan yang telah diperoleh itu pasti dengan cara kerja keras dan tidak ada keberuntungan.

“Saya menggambarkan tentang sulitnya memperoleh gelar professor itu seperti masuk dalam lubang jarum, tapi sesulit apapun yang dijalani apalagi sudah ada orang yang pernah melewati itu maka akan lebih mudah dan tidak ada yang sulit, hanya saja kita menunggu gilirannya,” ucap Farid.

Wakil Rektor I bidang akademik dan kelembagaan Dr. Muhibbuthabry, dalam laporan akademiknya menyampaikan bahawa selama berdirinya lembaga pendidikan ini sejak IAIN hingga alih status menjadi UIN Ar-Raniry, perguruan tinggi ini telah menghasilkan 25 guru besar termasuk dua orang yang dikukuhkan ini.

“Dua guru besar yang dikukuhkan tahun 2015 ini adalah Prof. Dr. A. Hamid Sarong, SH, MH, beliau salah seorang guru besar pada Fakultas Syariah dan Hukum, sedangkan Prof. Eka Srimulyani, S.Ag, MA, Ph.D salah seorang guru besar dari Fakultas Adab dan Humaniora,” kata Muhib.

Warek I menambahkan, Prof. Hamid Sarong mendapatkan gelar kehormatan guru besar pada saat kampus ini masih berstatus IAIN, sedangkan Prof. Eka Srimulyani merupakan satu-satunya dan yang pertama memperoleh gelar kehormatan guru besar setelah perguruan tinggi ini menjadi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.

Sebelum dikukuhkan oleh Rektor Farid Wajdi, kata Muhibbuthabry, kedua guru besar diberi kesempatan untuk menyampaikan orasi ilmiahnya didepan anggota senat dan para undangan, tampil pertama Prof. Dr. Hamid Sarong menyampaikan orasinya dengan judul Syariat Islam Dalam Sistem Hukum Tertulis di Aceh kemudian dilanjutkan oleh Prof Eka Srimulyani dengan judul Revisiting Dikotomi Public-Private: Negosiasi Ruang Publik Perempuan dalam Lembaga Pendidikan Islam Tradisional Indonesia.[Rilis]

Komentar