mukat mjc
mukat mjc

Ketika Sepakbola Jadi Rebutan Partai Politik

Wednesday, 5 June 2013 | 14:19 WIB

07-i-11

Pendukung Tim Nasional Indonesia. Foto: Supersoccer.co.id

Jika Anda bisa mengontrol sepakbola, maka Anda sudah setengah jalan untuk mengendalikan Indonesia.

Pagi ini, di tengah rintik hujan yang jatuh membasahi belahan bumi di mana saya hidup, saya terpaksa meninggalkan seluruh kegiatan karena sebuah artikel. Ya, artikel sepakbola. Hari ini, Jumat (24/5), Reuters merilis sebuah tulisan berjudul “In Indonesia, soccer is kicked around by political parties.”

Sang penulis, Janeman Latul, mengulas bagaimana perjuangan partai politik untuk mengontrol sepakbola Indonesia beserta seluruh penikmatnya. Tulisan dibuka dengan gambaran suasana Gelora Bung Karno. Teriakan “Indonesia! Indonesia!”. Lebih dari 60 ribu orang memadati stadion demi tim nasional. Lebih dari 100 juta orang menyetel televisi ke saluran yang menyiarkan pertandingan tersebut.

Di antara jutaan manusia, terdapat salah dua sosok berpengaruh di Indonesia. Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan pebisnis dengan ambisi berlebih di dunia politik, Aburizal Bakrie. Partai yang mereka gawangi sudah lama berjuang untuk mengambil perhatian pencinta sepakbola negeri ini. Berharap hal tersebut bisa menjadi faktor pendukung dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2014.

Bakrie, orang nomor satu di sebuah partai besar, sekaligus calon presiden, dianggap sukses merebut kendali dua asosiasi sepakbola, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI), pada bulan Maret 2013 setelah hampir dua tahun menjalankan organisasi dan liga secara terpisah.

“Jika Anda bisa mengontrol sepakbola, maka Anda sudah setengah jalan untuk mengendalikan Indonesia,” ucap seorang pejabat senior di PSSI dalam artikel ini. Ya, memang tidak akan ada kampanye partai politik di negeri ini yang bisa mendapatkan massa sebesar, sesetia dan seramai itu. Tak heran kalau sepakbola jadi rebutan meski Indonesia berada di peringkat 170 dari 209 negara anggota FIFA.

Menurut Widjajanto, CEO PT Liga Prima Indonesia Sportindo, penyelenggara Indonesian Premier League (IPL), pertandingan di akhir pekan akan mencuri perhatian 52 juta pemirsa televisi dan sekitar 12 juta orang akan hadir di stadion setiap tahunnya. Liga ini sendiri akan merger dengan sang rival, Indonesian Super League (ISL), di tahun 2014 jika mengacu pada kesepakatan yang disetujui pada bulan Maret lalu.

Bandingkan data di atas dengan milik 1.Bundesliga dan English Premier League (EPL) pada musim 2011/2012. Bundesliga punya catatan penonton sebanyak 13,8 juta orang sementara EPL menarik perhatian 13,1 juta orang untuk datang ke stadion. Hanya ada selisih sekitar 1-2 juta orang.

Suara di pemilu bukan satu-satunya yang diperebutkan. Jika sepakbola Indonesia kembali ke jalur yang benar, maka potensi bisnis di dalamnya tak terhindarkan lagi. Hak siar televisi ISL terjual senilai 1,3 triliun Rupiah untuk 10 tahun ke depan pada tahun 2011. Widjajanto lantas memberi estimasi ketika kompetisi sudah bersatu, hak siar dan iklan kemungkinan akan berharga 351 miliar Rupiah per tahunnya.

Tjipta Lesmana, mantan Ketua Komite Banding PSSI, pun dikutip dalam artikel soal perebutan kekuatan di sepakbola Indonesia. Menurutnya, PSSI sudah dijalankan dengan tujuan politik. Eksekutif partai dari kedua belah pihak (partai penguasa dan partai yang dipimpin Bakrie) menyadari bahwa sepakbola memiliki pengaruh dalam dukungan yang bakal mereka raih di Pemilu 2014.

Latul juga menjelaskan bagaimana sepakbola di Indonesia diatur secara ketat saat Indonesia dipimpin secara otoriter oleh Soeharto selama tiga dekade. Setelah beliau turun jabatan di tahun 1998, manajemen dunia olahraga memasuki masa penurunan.

Memasuki era politik baru, Bakrie Group memasuki dunia PSSI. Nirwan Bakrie menjadi Wakil Ketua Umum PSSI pada tahun 2003. Di tahun 2010, pihak pemerintah mulai melangkah masuk dan perebutan kekuasaan dimulai. SBY mengutus Menteri Pemuda dan Olahraga untuk merebut kendali PSSI, yang membuat Nirwan dkk. keluar dari kepengurusan pada tahun 2011.

Pendukung Bakrie tak tinggal diam. Mereka mendirikan organisasi saingan dan tetap menjalankan ISL. Persengketaan ini membuat pihak sponsor takut dan keuangan klub rusak. Pemerintah juga melarang klub menggunakan dana rakyat untuk menjalankan kegiatannya, yang menyebabkan banyak klub bangkrut.

Sepakbola Indonesia mencapai titik terendah akhir tahun lalu ketika Diego Mendieta meninggal dunia. Pemain asal Paraguay ini terlalu lama tidak mendapatkan bayaran hingga tak mampu membayar perawatan medis untuk penyakit yang ia derita.

Tahun ini, SBY mengirim utusan dari partainya, Roy Suryo, untuk menyelesaikan berbagai masalah di sana. Roy mengganggap “pemerintah menempatkan dirinya ke kandang singa”. Pada bulan Maret, Roy mengadakan kongres dihadiri dua pihak yang bertikai. Puluhan polisi berjaga-jaga apabila jalannya kongres tak terkendali.

Kesepakatan pun tercapai, induk sepakbola Indonesia kini hanya satu dan liga tunggal pun dijanjikan. Tetapi, hasil ini condong memihak ke arah Bakrie. Djohar Arifin Husein, yang disebut Latul berada di pihak Bakrie, tetap menjadi Ketua PSSI. Di sisi lain, enam anggota dewan PSSI, yang disebut Latul berada di pihak SBY, memilih meninggalkan kongres.

Nirwan, yang tak lagi berafiliasi dengan organisasi ini, dianggap memiliki pengaruh di dalamnya. Namun, ia menolak anggapan bahwa persaingan untuk menguasai PSSI didasari oleh kepentingan politik dan uang. Ia menyebut perselisihan ini didasari kecintaan terhadap sepakbola tetapi punya ide berbeda untuk menjalankan asosiasi ini.

“Jika Anda jatuh cinta dengan pacar Anda, Anda akan memberikan hati Anda. Tetapi jika Anda jatuh cinta dengan sepakbola, Anda akan memberikan hati dan jiwa Anda,” jelas Nirwan kepada Reuters sekaligus menutup artikel tersebut.

Sumber: Supersoccer.co.id

Komentar