mukat mjc
mukat mjc

Paradoks Politik Hary Tanoe

Thursday, 28 February 2013 | 18:49 WIB

Hary Tanoe

Hary Tanoe saat Mendeklerasikan Ormas Perindo | Antara : Rosa Panggabean

BEBERAPA MALAM YANG LALU, saya dan teman menonton sekilas deklarasi Ormas Perindo, Persatuan Indonesia di salah satu stasiun televisi Indonesia. Dalam acara tersebut turut hadir beberapa tokoh politik nasional seperti Yusril Ihza Mahendra, Alyasa Daud, Wiranto dan lainnya. Acara itu diikuti pula oleh banyak anggota lain yang rata-rata tergolong masih muda.

Saya tidak terlalu fokus hingga Ketua Umum Ormas tersebut yang juga baru bergabung dengan partai politik, Hary Tanoesoedibjo mengambil alih. Hary dipersilakan memberi orasi singkat mengenai pandangannya terhadap Indonesia secara keseluruhan. Masih sama seperti politisi-politisi sebelumnya, Hary bicara tentang keprihatinannya terhadap keterpurukan Indonesia. Tidak jauh beda dengan testimoninya pada iklan-iklan beberapa waktu lalu.

Seorang Hary tentu memiliki modal yang sangat cukup untuk terjun dalam dunia politik. Sebagai pemimpin MNC setidaknya ia telah menunjukkan kesuksesan manajerial sehingga stasiun-stasiun televisinya: MNC, RCTI dan Global TV terbilang sukses dalam kancah pertelevisian Indonesia dan mengalahi televisi pemerintah, TVRI. Namun di balik kesuksesan Tanoe bersama MNC Group dan keinginannya untuk membangun bangsa, terdapat beberapa hal yang sangat paradoks.

Saya teringat pada kata-kata seorang penyair Lebanon, Kahlil Gibran bahwa realitas seseorang bukanlah pada apa yang ia tunjukkan padamu tetapi apa yang tak ia perlihatkan padamu. Karena itu, jika ingin memahaminya dengarkan apa yang tak terkatakan olehnya bukan mendengarkan apa yang ia katakan. Atau lebih sederhananya, seseorang tidak dinilai dari apa yang dia katakan tapi yang dia lakukan.

Slogan-slogan klise semisal mengangkat bangsa dari keterpurukan atau memperbaiki moral bangsa yang dijadikan alasan untuk terjun ke dunia politik telah menjadi lelucon yang tidak lagi lucu. Kalau kita lihat lebih detail, jika memang ingin memperbaiki keterpurukan, televisi menjadi salah satu alat vital. Karena hari ini televisi menjadi menjadi “kiblat”. Televisi menjadi tempat masyarakat belajar. Baik dari fashion maupun cara pandang hidup yang glamour, materialitis, pergaulan bebas dan sebagainya seperti yang ditampilkan dalam sinetron-sinetron atau infotainmen.

Sudah bukan barang baru lagi jika stasiun-stasiun televisi di Indonesia kerap menampilkan tayangan-tayangan yang berorientasi pada “paha dada”. Wanita-wanita ditampilkan sedemikian seksi bahkan mendekati telanjang. Di rumah-rumah orang tua dan anak-anak menyantap tontonan-tontonan tersebut sehingga menjadi makanan penggugah birahi. Tidak menutup kemungkinan jika kasus-kasus pemerkosaan yang terjadi di angkot seperti sering diberitakan baru-baru ini, turut disumbang oleh tayangan-tayangan televisi yang tidak sehat.

Dalam kajian pengembangan karakter bangsa melalaui perspektif media (Kemenpora, 2010) terdapat istilah mindfacturing yang secara harfiah dapat diartikan sebagai penaburan benih pikiran; baik yang positif maupun negatif. Sebagai contoh sederhana, ketika seseorang menulis kata-kata bijak atau motivasi pada status facebook, kemudian status tersebut dibaca oleh khalayak maka orang tersebut telah berperan pada positive mindfacturing atau penyebaran benih pikiran positif pada orang banyak. Pun sebaliknya, ketika seseorang menampilkan video-video yang tidak mendidik, mengundang birahi atau hal-hal negatif lain bagi orang banyak, maka ia telah menjadi aktor dari proses negative mindfacturing.

Bila kita lihat perjalanan tayangan televisi di Indonesia terutama selama satu dekade terakhir, dapat kita lihat perbandingan rasio yang sangat tidak imbang antara positif dan negative mindfacturing atau antara program sehat dan program “paha dada”. Progam “paha dada” di televisi menjadi daya tarik paling kuat untuk menaikkan rating supaya bisnis menjadi lancar.

Bila hari ini kita menemukan banyaknya program-program tidak sehat di beberapa stasiun televisi kita, tentunya orang-orang yang memiliki kuasa dalam dunia televisi telah ikut mengambil peran dalam negative mindfacturing terhadap bangsa ini terutama sekali para remaja yang perilaku-perilaku mereka contohi dari televisi.

Jika pertelevisian Indonesia diibaratkan sebagai sebuah negara, maka Harry Tanoe adalah seorang pemimpin di salah satu negara bagian. Tapi di bawah kendalinya ia belum mampu menyelesaikan permasalahan di dunia pertelevisian kita. Kalau memang ingin menciptakan perubahan, televisi adalah satu hal yang menjadi medium.

Ada sebuah pameo yang muncul bahwa tuntunan sudah menjadi tontonan dan tontonan menjadi tuntunan. Sudah dimaklumi bersama, mayoritas masyarakat Indonesia tidak belajar dari buku, mereka belajar dari dari sinetron-sinetron atau lagu-lagu yang kebanyakan tidak sehat untuk pertumbuhan nalar dan mental. Maka jika ingin merubah mental dan keterpurukan bangsa, salah satunya adalah dengan menghadirkan tayangan-tayangan positif melalui televisi. Bukan semata-mata bablas demi menaikkan rating. Disinilah letak paradoks seorang Hary, antara apa yang dicita-citakan dan apa yang dilakukan di “negara”nya. []

Putra Hidayatullah | Penulis adalah Alumnus TEN IAIN Ar-Raniry, Redaktur Seni & Budaya MJCnews.com

Komentar