mukat mjc
mukat mjc

Program Sejuta Warung

Tuesday, 19 February 2013 | 08:30 WIB

warung kopi - bbc

Foto. BBC Indonesia

SUATU hari seorang jurnalis harian lokal Aceh membuat pengakuan bahwa oplah korannya turun hingga 4200 eksemplar setiap bulan puasa. Awalnya, tidak terlalu acuh dengan pengakuannya. Curhat teman saya yang kebetulan pimpinan media lokal berlalu begitu saja. Apalagi, penurunan tiras hanya berlangsung sebulan. Toh, selama ini oplah mereka mencapai puluhan ribu eksemplar per hari belum lagi pendapatan dari iklan yang mencapai ratusan juta rupiah tiap terbit. Sampai saya berpikir bahwa teman ini mengeluh waktu turun oplah sebaliknya oplah naik pasti senyum sendiri.

Namun, yang menjadi perhatian bukan soal fluktuasi oplah koran tersebut. Angka 4200 ternyata asumsi jumlah warung kopi (warkop) di Aceh. Asumsi ini berdasarkan pengamatan bahwa ada 4200 warung kopi yang tidak bisa buka siang hari pada bulan Ramadhan. Sementara malam hari, langganan mereka tidak akan baca Koran lagi karena beritanya sudah basi.

Asumsi ini belum tentu benar, karena sebagian pemilik warung kopi tetap berlangganan koran pagi kendati bukan untuk dibaca pelanggannya di warung kopi. Artinya jumlah warung bisa saja lebih dari asumsi sementara. Siapa tahu ada warung kopi yang tidak berlangganan koran, bahkan ada juga yang berlangganan koran terbitan Medan karena jaraknya dengan propinsi tetangga lebih dekat.

Saya malah memperkirakan jumlah warung kopi bisa enam ribua bahkan bisa lebih. warung tertentu berlangganan koran lokal lain meski jumlahnya tidak sampai setengah dari pelanggan koran besar ini. Yang menarik, survey mereka-meskipun masih perlu dibuktikan lagi- bahwa satu koran dibaca hingga 40 orang dan akan dibiarkan bila hurufnya tak terbaca lagi.

Warung kopi dan baca koran pagi nyaris jadi kebutuhan tetap. Bayangkan sepanjang jalan di Aceh bisa ditemui sejumlah warung kopi. Apakah itu warung sederhana atau sekadar menjajakan beberapa meja hingga warkop yang lengkap dengan berbagai sajian makanan di depannya. Pokoknya harus warung kopi. Meskipun tak banyak peminat yang penting buka dulu. Urusan laris atau tidak itu belakangan.

Sajian warung kopi, apalagi selain koran pagi. Usai shalat shubuh atau pagi buta warga sudah mulai menyeruput segelas kopi dengan beberapa kue basah. Sajian isteri atau keluarga di rumah tak terlalu digubris, karena di warung ada koran pagi. Tekad ingin cepat tahu berbagai perkembangan menjadi alasan orang memilih baca koran di warung kopi. Cukup dengan ribuan rupiah, pelanggan sudah dapat kopi, informasi juga bisa diskusi menjelang berangkat kerja.

Fenomena lain adalah mereka yang keluar usai absen di kantor langsung menyerbu warung kopi. Pada jam tertentu akan dipenuhi para pegawai kantor yang seharusnya melayani masyarakat. Urusan kantor hingga bisnis besar bahkan transaksi bisa berlangsug di warung kopi. Kalau pun ditanya, mereka akan menjawab” Duduk di warung kopi juga kerja,” begitu jawab mereka enteng. Bahkan ada dalih lain bahwa nongkrong di warung kopi sekaligus menjaring aspirasi. Meskipun, PNS sering tertangkap basah di warung kopi, tempat itu tetap dicari.
Berbagai informasi awal tentang berbagai hal pun bisa didapat saat nongkrong di warung kopi. Beragam kalangan memadati warung kopi, apakah dia polisi, politisi, bupati atau tukang cuci. Artinya akan ada informasi lewat sebuah diskusi warung kopi. Alasan silaturrahmi pun dibawa-bawa untuk membenarkan tindakan mereka. Tapi itulah Aceh, masalah kantor juga bisa selesai di warung kopi.
Sejuta Warung
Fenomena ini juga yang disambut masyarakat dengan terus membuka warung kopi. Jangan heran bila dalam dua tahun terakhir jumlah warung kopi terutama di Banda Aceh meningkat tajam. Warung kopi pasca tsunami bahkan tumbuh bagai jamur di musim hujan. Desain warung kopi pun dirancang lebih luas dan beragam hingga mengesankan suasana rileks. Bukan itu saja, nama pun identik dengan nama bangunan untuk menciptakan suasana akrab antara konsumen dengan penjual.

Untuk mengesankan suasana santai, warung kopi saat ini dibuka lebih luas. Setiap warung kopi terdiri atas dua hingga empat pintu toko. Untuk memancing pelanggan, hot spot jaringan internet jadi jualan warung kopi. Jadi, bagi yang latah buka warung kopi dengan modal pas-pasan bersiaplah merugi karena sepi pembeli.

Keberadaan warung kopi akhir-akhir ini nyaris jadi ”kebutuhan”. Hampir setiap sudut terdapat warung kopi dengan tawaran ”berbeda”. Setiap tumbuh toko baru, yang pertam dibuka adalah warung kopi. Sampai-sampai Ishak Hasan dalam opininya di Serambi Indonesia mengibaratkan Banda Aceh sebagai ” Kota Dhapu Kupi”.

Kebaradaan warung kopi memang ada positifnya. Selain ajang pertemuan informal, warkop, di warung kopi bisa berlangsung apa saja. Termasuk, transaksi, diskusi, atau buka kebun besar juga dilakukan di warung kopi. Dalam sekejap, laba sudah diraih, untung telah ditangguk. Namun, siapa nyana, itu hanya cerita fiksi saat menyeruput kopi dan menikmati gossip panas. Suhu politik pun bisa turun naik saat di warung kopi. Jangan heran, bila waktu seorang lelaki lebih banyak di warung kopi daripada menemani keluarga dan sosialisasi di sekitar tempat tinggal. Maka, budaya konsumtif menjadi pilihan orang Aceh.

Dengan modal ribuan rupiah semua usaha sudah berjalan. Mulai bisnis mobil, jual beli tanah hingga buka pabrik bisa saja berlangsung dalam saharí di warung kopi. Kecenderungan ini juga yang diadopsi para pekerja LSM asing. Mereka lebih sering mencari inspirasi di warkop dengan partner-nya. Kecenderungan ini bisa jadi akan berjalan lama seiring karakter masyarakat Aceh yang lebih senang ”ngobrol” daripada bekerja keras.

Ternyata, warkop juga telah melahirkan generasi santai bahkan lalai. Saban malam, mahasiswa warkop berjejal kenderaan, baik roda dua atau pun empat. Akibat banyaknya kenderaan, badan jalan pun berfungsi jadi lahan parkir sehingga sudah mengganggu pengguna jalan. Saat orang lain terus bekerja untuk mencari sumber kehidupan, generasi warkop tumbuh pesat terutama di Banda Aceh dan kawasan sekitarnya.

Tanpa bermaksud mencari kambing hitam, warkop saat ini menjadi sumber informasi digital. Dengan hot spot internet, para pelajar dan mahasiswa akan dengan mudah mengerjakan bahan belajar melalui internet. Sehingga, keliru anggapan bahwa jadi generasi santai bahkan manja. Bisa jadi ini adalah pembenaran. Namun, kecanduan nongkrong di warung kopi ternyata tak selamanya sehat.

Banyaknya pemgunjung menyebabkan kondisi lingkungan tidak sehat. Asap rokok yang mengepul tanpa batas, juga frekuensi penggunaan gelas atau sendok warkop belum tentu terjamin bebas penyakit. Siapa sangka, di antara pengunjung ada yang mengidap penyakit TBC atau infeksi lainnya akan mudah tertular. Tak ada jaminan gelas atau cangkir kopi atau minuman lain di warkop ini dicuci dengan bersih. Kondisi sangat berbeda dengan kafe atau restoran yang tingkat kesehatannya lebih terjamin. Tapi itulah Aceh yang sarat warkop sehingga program sejuta pohon bisa kalah cepat dengan ”program sejuta warung” yang tidak dicanangkan dengan sengaja. Saatnya menata kembali pola hidup kita yang lebih logika.

Mukhtaruddin Yakob
Penulis: Mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh

Komentar