mukat mjc
mukat mjc

Salju

Tuesday, 10 December 2013 | 12:43 WIB

430757_378526872158192_661237498_n

Musim salju di Turki. Foto: facebook Wardatul Ula

MJCnews.com - “HEI, KAR GIBI GELSENE,” hai kamu, datanglah seperti salju. Kata-kata yang sering dilontarkan muda-mudi Turki kepada pujaan hatinya. Tanya kenapa? Kar yang berarti salju dalam bahasa turki ini adalah suatu keindahan yang Allah turunkan dari langit. Seperti hujan, salju juga sebuah rahmat. Namun sering datang tiba-tiba tanpa bisa diduga sebelumnya.

Ya. Sejatinya salju memang selalu turun di musim dingin, tapi tidak selamanya seperti perkiraan. Salju sering mengejutkan, sering tidak turun jika dinantikan, atau tiba-tiba saja sudah memutihkan seluruh pepohonan, atap rumah dan badan jalan. Salju selalu saja membisikkan angin bahagia kepada siapapun yang memandangnya. Ada suatu ketenteraman yang dibawanya bersama kebekuan. Itulah alasan mengapa penantian akan seorang istimewa itu di-ibaratkan salju, datang dengan sebuah kejutan dan kebahagiaan.

Sebelum melihat salju, saya selalu memuja keromantisan gerimis. Tetesan-tetesan penuh arti anugerah dari Sang Pencipta. Gerimis selalu menjadi tempat manis untuk berpuisi cinta, teman yang selalu setia mendengar gelitikan perasaan. Banyak kisah yang saya titipkan pada gerimis. Tapi semua berbeda setelah saya mengenal salju. Lagi-lagi saya dibuat terpesona olehnya. Saya jatuh cinta kepada bulir-bulir putih yang sedang turun di luar sana, bahkan sejak awal menatapnya ketika pertama kali menginjak bumi Turki. Di Attaturk Internasional Airport 2012 lalu, salju menyambut kedatangan saya.

Ini pertemuan ketiga saya dengan salju, musim dingin ketiga yang saya lewati di sini. Penantian saya masih dengan rasa yang sama, seperti awal saya menyiapkan segala persiapan dari Indonesia dengan perasaan deg-degan yang tidak karuan untuk bisa melihat salju. Jangankan saya yang baru melihat salju untuk kali ketiganya, orang-orang di negara ini yang sudah dibawa berjalan dalam salju dari kecil, masih suka heboh dan meluapkan kegembiraan ketika salju turun.

Seperti saya yang mempersiapkan beberapa hal untuk menyambut salju, terlebih perasaan. Musim dingin dan salju selalu istimewa dan dipersiapkan dengan matang oleh banyak orang. Orang-orang yang tinggal di daerah 4 musim, sudah terbiasa mempersiapkan segala keperluan sebelum memasuki musim dingin. Bahan makanan seperti paprika yang dikeringkan, rempah-rempah, ataupun teh yang akan menjadi penghangat nantinya. Sebelum musim dingin tiba, mereka juga harus membersihkan gudang penyimpanan makanan. Karena lazimnya, orang-orang di luar tidak bekerja ketika musim dingin. Juga persiapan alat-alat rumah, cerobong asap dan pemanggangan di setiap rumah ketika winter akan menghampiri.

Begitu istimewakah engkau wahai salju? Ah snow, you really hipnotized many people! Salju itu penghipnotis terbesar. Sampai banyak orang tak lagi tampak akan ‘hitam’nya, termasuk saya kiranya. Hanya putih dan kebahagian yang selalu menggambarkan salju. Faktanya, salju juga meninggalkan hal yang tidak selalu menyenangkan. Jalanan yang licin dan becek contohnya, sehingga membuat orang-orang jatuh, tergelincir, bahkan yang lebih tragisnya merenggut nyawa manusia.

Ironisnya di negara-negara bersalju, beberapa kejadian mengenaskan ketika winter holiday menjadi tranding topik yang populer media. Kecelakaan yang meningkat diakibatkan salju, jalan yang tertutup oleh bongkahan es, dan berbagai kesulitan lain yang ditimbulkannya. Beberapa kota Timur Turki yang tidak pernah kering akan salju seperti Erzurum, Ardahan, Kars dan desa-desa kecil di dalamnya sering tertimbun oleh es salju ketika musim dingin. Jalanan tertutup, sehingga masyarakat tidak bisa keluar dari rumah beberapa bulan selama musim dingin. Sampai untuk hajat mendesak saja tidak bisa terpenuhi, katakanlah untuk keperluan berobat ke rumah sakit.

Seburuk apapun hal yang diakibatkan salju, tetap salju selalu dinantikan dengan penuh persiapan. Salju juga selalu saja menawarkan sebuah senyuman ketika awal melihatnya, bahkan bagi mereka yang terkena dampak negatif salju. Dan harus diketahui, air yang dipakai di Turki juga sebagian besar berasal dari salju, bukan hujan. Tanah Turki adalah jenis tanah dari negara-negara yang lebih banyak menyerap salju. Jadi bagaimanapun ceritanya, salju sesuatu yang ditunggu oleh masyarakat untuk kesuburan tanah dan tumbuhan.

Musim dingin dan salju pastinya menjadi hal yang sangat menyedihkan bagi mereka yang tidak memiliki tempat tinggal, tidak memiliki pakaian tebal dan boat sebagai penahan dingin yang mengikat tulang. Justru yang menarik disini, musim salju dimanfaatkan oleh orang-orang Turki yang memiliki kelebihan untuk berbagi dengan sesama. Berbagi kebahagiaan bersama ketenteraman yang dibawa salju. Lagi-lagi salju menghipnotis banyak orang, melunakkan hati-hati yang keras dan membuatnya lebih peka.

Sangat benar bukan jika saya mengatakan salju adalah penghipnotis terbesar. Bagaimana salju mampu menghipnotis banyak orang? Bayangkan saja, banyak orang rela menghabiskan waktu mereka dengan hanya duduk dan melihat keindahan serbuk putih berjatuhan dari jendela. Melupakan sejenak ribuan pekerjaan berharga lain dengan melakukan pekerjaan konyol yang tidak bernilai jika diukur. Parahnya, ada yang sampai menghabiskan waktu berjam-jam bermain salju di luar rumah, membuat boneka salju, menaiki kereta gantung, ice skyting, dan jenis permainan salju lainnya di malam hari sekalipun. Tanpa mempedulikan rasa dingin yang mencekam.

Tidak pernah ada kata bosan untuk melakukan hal yang sama. Seperti saya yang tidak pernah bosan untuk selalu menantikan winter penuh pengharapan di bulan Desember. Menantikan salju turun sambil menuliskan puisi-puisi cinta pada hati yang sedang dihujani

Wardatul Ula | Turki
Menanti salju yang kembali akan turun
Gaziantep, 8 Desember 2013

Komentar